FF Begin chapter 26


Title       : Begin chapter 26 ‘Fate’

Author   : Imah Hyun Ae

Ide         : Park Yong Kyo

Genre     : Romance

Tokoh    :

  1. Kim Hyun Ae (pembacaku atau kalau nggak mau…saya aja ea?? Hehehe ^^)
    1. Park Yong Kyo aka Rima (teman kalian yang cinta ama Korea)
    2. Lee Hyu Rim aka lia (teman kalian yang cinta ama Korea juga)
    3. Kim Hyun Joong (suami Hyun Ae)
    4. Jung Yunho (namja idaman Hyun Ae ^_^)
    5. Kim Jae Joong (sahabat Hyun Joong kekasih Lee Eun Shi)
    6. Kim Junsu (pasangan masih rahasia)
    7. Lee Eun Shi (kekasih Kim Jae Joong)
    8. And other member dbsk and SS501

————————————————————————

Begin Chapter 26

‘Fate’

 

#Changmin POV

Aku memperhatikan Yunho hyung yang tampak bersemangat menari di ruang latihan kami. Aku heran dengan energy yang dia punya. Kami berempat sudah sangat kelelahan, dia masih saja eksis latihan.

“Ya, Hyung! Berentilah! Melihatmu terus menari lelahku makin terasa,” rengekku. Yunho memutar tubuhnya dengan lincah.

“Kalau begitu tutup saja matamu, Min!” ujernya santai lalu menari lagi. Sekarang bukan tarian untuk lagu baru kami, melainkan tarian aneh dan…dengan suara rappnya yang unik.

Grooookkkkk!!!!

Seperti biasa! Setelah latihan aku pasti langsung kelaparan. Kupegangi perutku yang langsung terasa perih. Kualihkan pandanganku ke member lain. Jae Joong sudah tak tampak. Pasti dia keruangan khusus untuk mengaransemen lagu. Yoochun, hyung yang lebih putih dariku itu tampak konsentrasi pada kertas di depannya dengan tubuh bersandar di dinding. Biasanya kalau dia sudah posisi begitu, dia tak akan bisa diganggu.

Lalu di sebelahku, si suara lumba-lumba sedang memanyun-manyunkan bibirnya. Pasti dia sedang memainkan game baru dan belum menang. Tangannya heboh sendiri memainkan stik. “Kalah lagi, ya Su?” tanyaku.

Junsu mengangguk. Hahaha, ia tidak sadar tidak kupanggil dengan panggilan kehormatan alias ‘Hyung’. Pasti terlalu asyik. “Apa kau mau menang?”

“Ini game baru, Min. belum ada yang memenangkannya. Mana mungkin kau tahu cara memenangkannya!” ujernya sambil masih serius memandang laptopnya.

“Apa kau lupa kalau si Magnae ini sangat pintar?” ujerku pede. “Aku tahu caranya!!”

Set! Junsu menoleh dengan cepat. “Jincha??”

Aku mengangguk mantap.

“Buktikan padaku!” pintanya sambil menyerahkan stik ditangannya padaku.

Aku tertawa dengan nada angkuh. “Tidak, Su. Kecuali kau mau menemaniku makan?”

Kening junsu berkerut. “Kenapa harus ditemani. Kalau kau lapar kau bisa minta manajer membelikanmu makanan!” ujernya dengan wajah kusut.

Aku menggelengkan kepala dengan anggun. Junsu berekspresi ingin muntah. Aku tergelak seketika. “Aku mau ke restoran Hyun Ae. Sudah lama kita tidak makan sepuasnya di sana. Dan pastinya gratis, hahahaha….”

Junsu spontan memukul stik ke kepalaku. “Aku setuju dengan idemu, eu-kyang-kyang…” ujernya kemudian. Hm-hm… sudah kuduga.

-End POV-

 

#Author POV

 

“Apa yang kalian tertawakan??” teguran Yunho langsung menghentikan tawa keduanya.

“Anni. Hehe… aku dan Junsu hanya mau mencari makan,” ujer Changmin dengan nada santai.

“Seharusnya aku sudah menduganya. Hanya makanan yang bisa membuatmu tertawa sebahagia itu, Min. Tunggu di sini, aku ganti baju dulu,” pinta Yunho lalu melangkah.

“Hyung mau ikut?” tanya Changmin kaget.

“Tentu saja,” jawab Yunho sebelum dia membuka pintu dan keluar ruang latihan ini.

“Kalau, Yunho ikut itu berarti kita tidak bisa makan di sana sepuas kita.” Junsu mengamini ucapan Changmin dengan anggukan.

“Kalau begitu kita pergi sekarang. Kajja Su!!” Changmin secepat kilat menarik tangan Junsu.

“Su-su-su! Aku hyungmu tahu!” protes Junsu akhirnya. Aku hanya tergelak.

***

 

Sementara itu di restoran,

 

Lia mengepel meja restoran dengan semangat gigi empat. Ia merasa lelah menjalani rutinitas yang tak ada perubahannya, dan tidak bisa jalan-jalan ke tempat wisata yang dijanjikan Hyun Ae karena ia dan Hyun Joong sedang sibuk mempromosikan restoran baru mereka.

Usai mengepel semua meja, Lia ke toilet. Mencuci tangannya di sana lalu masuk ke ruangan pegawai. Tampak Rima tengah duduk di dekat jendela dan menatap keluar. Tangan kanannya menopang dagunya dengan kokoh. Matanya tampak menerawang. Lia yakin pikiran Rima tengah mengembara ke Jae Joong oppa sekarang.

Perlahan Lia mendekati Rima yang tampak merana. Dibilang merana karena tampangnya sangat mengenaskan sekali. Mungkin harapannya bisa dekat dengan Jae Joong oppa belum juga terwujud. Atau mungkin memang takdir tak berpihak padanya. Yah, karena meski berada di bawah langit yang sama, di atas tanah yang sama, ia tetap tak bisa bertemu (bahkan secara kebetulanpun tak bisa).

Lia menepuk bahu Rima pelan lalu duduk di depan gadis agak gemuk itu. Rima menoleh dengan malas.

Waeyo?” tegur Lia simpati.

Rima menggeleng lemah. “Hanya berpikir nasib kita tak seindah apa yang kita bayangkan…”

Lia tersenyum prihatin. “Benar. Tapi cukup menyenangkan untuk dijalani kan?”

Rima mengangguk dengan bibir mengerut dan wajah sedih. “Kapan aku bisa ketemu oppa lagi?” keluhnya pilu.

Lia ikut-ikutan menopang dagunya. “Iya, kapan ya?” ujernya sambil tersenyum lebar. Pikirannya tengah mengembara ke saat dia dan Junsu bertemu di pasar dua minggu lalu.

“Aissshhhh….” teriak Rima frustasi.

***

Junsu dan Changmin berjalan beriringan menuju ke dalam restoran. Restoran yang cukup aman untuk mereka kunjungi karena restoran Hyun Ae juga mengutamakan kenyamanan pengunjung.

Keduanya langsung menuju ruang pegawai di mana mereka yakin Hyun Ae ada di sana.

Pintu terbuka dan bersamaan dengan itu teriakan frustasi Rima terdengar.

“Aissshhh….”

Lia yang mendengar pintu terbuka langsung menoleh. Dadanya langsung berdegup kencang saat melihat sosok yang dipikirkannya ada di depannya. Ia mengerjap beberapa saat untuk menyakinkan dirinya bahwa matanya tidak sedang menipunya.

“Junsu oppa!!!” jeritnya sembari refleks berdiri.

Hoaaa!!!! Lia!!! Kau di sini???” jerit Junsu tak kalah heboh dengan bahasa Korea. Rima dan Changmin mendanag heran dengan tingkah dua makhluk di depan mereka.

“Oppa, tell me??” ujer Lia heran. Biasa. Dia kebingungan dengan bahasa korea yang meluncur dari bibir Junsu. Dan maksud kalimatnya adalah ‘oppa bicara padaku?’

Kening Changmin langsung berkerut. ‘Tell me’? Apa yang perlu dibicarakan dengannya? Herannya. Begitu juga dengan Rima.

“Ah…” Junsu tersenyum lebar. “Nice to meet you again Lia!” Kegembiraan tergambar jelas di wajahnya dan juga suaranya.

Mata Rima membulat. Yang satu ngomong apa, yang satu jawab apa, batinnya.

Me too oppa!!!” pekik Lia semangat sambil mengulurkan tangan. Alasan semangatnya karena Junsu bilang dia senang bertemu dengan Lia lagi dan juga senang karena dia mengerti apa yang Junsu bicarakan.

Junsu menyambutnya dengan cengiran lebar.

Sementara Changmin, ia mati-matian menahan tawanya sebelum akhirnya, “Buahahahaahaha…”

Disusul oleh kikikan kecil Rima. “Hihihihi…”

Junsu dan Lia menoleh ke arah Changmin dan Rima.

Why they?” heran Junsu.  Maksudnya ‘Kenapa dengan mereka?’

I not know oppa! (Aku tidak tahu oppa),” sahut Lia sambil geleng kepala heran.

Rima mendekat. “Oppa mencari Hyun Ae?” tanyanya dengan bahasa korea tapi logatnya masih logat Indonesia.

Changmin dan Junsu mengangguk bersamaan.

“Sayang sekali, dia tidak di sini oppa. Dia sedang mengurus restoran barunya.”

Junsu dan Changmin mengangguk-angguk.

Otokhe?” tanya Junsu pada Changmin.

“Aku sudah sangat lapar, Hyung…” ujer Changmin memelas sambil memeluk perutnya.

Junsu melotot. Sudah ada maunya saja, baru memanggil hyung. Apa lagi kalau bukan minta ditraktir.

“Hyung…” rengek Changmin dengan mata penuh harap.

“Ya!!! Bukankah kau punya uang sendiri. Jangan berharap aku mentraktirmu!!”

Changmin mengangkat jari telunjuknya dengan wajah meringis. Menyatakan ‘satu kali ini saja, hyung!’ diiringi dengan bunyi grooooookkkkkk dari perutnya.

Oppa angry?” tanya Lia dengan pedenya.

Changmin menoleh bingung.

“I think she want said ‘are you hungry?’ oppa,” terang Rima.

“Yes! Yes! Itu maksduku!” pekik Lia.

Changmin mengulum tawanya dan mengangguk dengan cepat.

Please sit oppa. Akan kupesankan makanan Indonesia yang enak untuk kalian,” ujer Lia dengan bahasa gado-gado plus semangat gigi satu.

Rima langsung menerjemahkan maksud kalimat Lia dengan bahasa Inggris yang cuma dipahami Changmin.

Wajah Changmin berbinar bahagia. “Yang enak ya?”

Rima mengangguk.

“Tapi ini gratis kan??” tanyanya lagi penuh harap.

Rima tergelak. “As you want oppa. But, just one.”

Changmin mengangguk semangat. “Mereka sangat baik, hyung. Mau mentraktirku. Tidak sepertimu!” sungut Changmin yang sukses membuat Junsu mendaratkan tangannya ke bahu Changmin.

 

 

Beberapa menit kemudian Lia datang membawa sup sapi andalan di restoan ini. “Eat oppa. It’s good!” ujernya sambil mengangkat jempolnya pada Junsu dan Changmin.

Changmin menahan tawanya. Tak ingin membuat Lia yang susah payah berbicara dengan mereka tersinggung. Pasti dia mau bilang kalau ini ‘delicious’ tapi nggak tahu bahasa inggrisnya apa, hahaha… Junsu versi cewek nih! “Buahahahaha…” akhirnya Changmin tak tahan juga.

Lia dan Junsu cuma memandang heran.

***

 

“Dia unik,” ujer Changmin sambil masuk ke dalam mobil mereka.

“Siapa?” tanya Junsu sambil menghidupkan mesin mobil. Kali ini giliran dia yang mengemudi.

“Lia.”

“Kau benar!” sahut Junsu sambil mengukirkan sebuah senyuman. Benaknya menghadirkan sosok Lia yang semangat menyambutnya tadi.

Changmin manggut-manggut ketika didapatinya ekspresi Junsu yang tersenyum itu. Sepertinya hal menarik lainnya akan terjadi, batinnya sok tahu. Lia dan Junsu, hehehe…

***

Lia memandangi mobil Junsu yang menjauh dari balik jendela, begitu juga dengan Rima yang ada di sampingya.

“Kenapa hanya mereka yang datang, ya, Ya?” tanya Rima sedih. Ia menyesal karena tadi memilih memendam pertanyaan itu dalam hati. Padahal kalau mau, dia bsiabertanya langsung dengan mereka.

“Kenapa Changmin oppa tertawa terus mendengarku bicara ya, Rim?” Lia balik bertanya. Sepertinya ia tak mendengar pertanyaan Rima barusan.

Rima mendenguskan tawanya. “Karena bahasa inggrismu itu. Apalagi?” ujernya lalu kembali duduk di tempatnya semula, sebelum Changmin dan Junsu datang.

“Kenapa dengan bahasa inggrisku? Kurasa tidak ada yang aneh. Apalagi, Junsu oppa mengerti!”

“Ahahahaha…” Rima tergelak seketika. Apanya yang mengerti? Kalian berdua itu tadi bicaranya tak ada nyambungnya sama sekali tahu! Seru Rima dalam hati.

“Ya!!! Kenapa ketawa??”

Rima memilih menggeleng sambil berusaha menghentikan tawanya.

“Aish…” giliran Lia yang kesal.

 

 

_TBC_

 

coment please ^^

 

2 Komentar

  1. Lia junsu

    ha..ha..ha..
    Gokil..gokil…
    2makhluk aneh brtemu lg.gkgkgkgk.

    Changmin aja mpe muncrat ketawax…pa lg aq…

    Good..
    Good…*alah sok ingris*.

  2. iren kei

    hhaha,,, msh tetep ngakak ngebayangin lia ma junsu dengan bahasa planetny,,, haha,,,, ditunggu lanjutanny chingu,,,hhehe..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: