FF Mianhamnida


Title    : Mianhamnida

Author : Imah_HyunAe

Cast       : Choi Jong Hoon FT Island, Lee Hyun Ae (my reader or me *?*), and other name as cameo

AN        : cerita ini terinspirasi oleh lagu 2am “You Wouldn’t Answer My Calls”. Terjemahannya ada di kalimat bertanda kurung. Mian castnya orang lain, hehehe… juga saya buat versi cerpennya ^^ Happy reading ^^

 

Sebulan lagi aku akan menikah dengan seseorang yang kupilih. Seorang gadis penjual bunga di daerah belakang kampus bahasa Universitas Korea. Aku bertemu dengannya saat aku sedang membelikan bunga untuk Soo Ae, kekasihku waktu itu.

***

~Flashback~

Hari itu, aku sengaja ke toko bunga di belakang kampus bahasa Universitas Korea karena lebih dekat dengan kampus Soo Ae. Apalagi kekasihku yang satu itu super cerewet. Terlambat saja aku menjemputnya, jangan harap aku dapat sebuah senyuman manis darinya!

Aku masuk ke toko bunga itu. Melihat-lihat bunga apa yang akan kuberikan padanya sebagai permohonan maaf karena aku lupa kalau hari ini ulang tahunnya.

Seorang yeoja dengan rambut hitam panjang berkuncir kuda, kulit sawo matang, bermata bulat, berhidung agak mancung dan terlihat seusia denganku, menghampiriku. Menanyakan apa yang kucari.

Aku merasa dunia berhenti berputar saat itu. Kulihat sebuah lesung pipit di pipi kirinya tercipta ketika bibirnya melengkungkan senyuman. Darahku mengalir lebih deras dari biasanya. Udara serasa sejuk di sekitarku. Jantungku, mulai berdebur tak karuan. Dan batinku seolah berkata, ‘Dialah yang kucari-cari selama ini’.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya sekali lagi. Baru kusadari kalau suaranya begitu lembut.

Aku tergagap. Terkejut karena mendapati diriku kembali ke kenyataan setelah sekian detik melayang di bawa perasaan yang indah.

“Ah… mencari bunga.. Umm…” aku kebingungan. “Mawar. Iya! Mawar!!” pekikku semangat.

Ia menatapku sambil menahan senyum. Ah, sial! Pasti tadi aku terlihat seperti orang bodoh tadi.

“Warna apa ya?” tanyanya santun.

Jarang sekali kutemukan gadis bersikap seperti ini. Apa ini hanya karena dia sedang bekerja? Atau memang aslinya dia begitu ya? Kalau aslinya memang begitu, aku akan makin terpesona.

“Warna apa ya?” tegurnya lagi.

“Ah.. Ya… Warna… Umm…” Aku lagi-lagi tergagap. Lalu cepat melihat ke deretan bunga mawar di depanku dan langsung sembarang tunjuk. “Itu yang itu.” kataku.

“Ungu ini?” tanyanya. Ada nada heran di suaranya.

“Hah?” aku terkejut. Ungu kan warna yang dibenci Soo Ae. “Bukan… yang putih…” ralatku cepat. Ia mengambil bunga yang kumaksud.

“Berapa tangkai?”

“Sepuluh,” sahutku sambil menyuguhkan senyum terbaikku. Ia membalas senyumku dan  mengambil sepuluh tangkai lalu menuju meja kasirnya. Aku merasa kupu-kupu menari-nari di hatiku.

Ia mengikat bunga itu dan membungkusnya. Disebutkannya harga yang harus ku bayar dengan keramahan yang sama. Aku kembali terpesona entah untuk berapa lama. Sampai akhirnya suara lembutnya menegurku. Menyeret kesadaranku kembali.

“Ah… Iya… berapa tadi?”

“Tujuh puluh lima ribu.” Ia menyembutkan harganya. Aku tersenyum. Mungkin senang karena sekali lagi aku mendengar suaranya yang lembut. Aku menyerahkan lembar uang seratus ribuan.

“O, ya. Choi Jong Hoon imnida,” ujerku sambil mengulurkan tangan dan menyuguhkan senyuman termanisku. Ia menatapku heran namun tetap tersenyum dan menyambut uluran tanganku.

“Siapa namamu?” tanyaku cepat tanpa mau melewatkan kesempatan.

Ia tak menjawab dan menarik tangannya. “Terima kasih kunjungannya. Ini kembaliannya,” ucapnya lembut.

Setelah hari itu aku terus teringat pada sosoknya. Hingga akhirnya aku memutuskan mengejarnya. Mengejar gadis penjual bunga yang akhirnya kutahu bernama Lee Hyun Ae. Dua bulan lamanya aku mengejarnya, namun ia selalu menolakku. Ia hanya mencari orang yang serius. Dalam artian, pacaran tidak akan terlalu lama, dan berujung pada pernikahan. Awalnya aku memilih menyerah. Aku bukan lelaki yang bisa setia pada satu yeoja. Tapi, siapa yang bisa menolak kehendak hati? Aku begitu menginginkannya. Sampai-sampai sehari saja tak melihatnya aku nyaris gila.

Lalu kuputuskan kembali menyatakan cintaku padanya di depan ahjuma-nya, yang selama ini kukira bos toko tempatnya bekerja. Orang tuanya sudah meninggal empat tahun lalu.

Kudapati senyum indahnya merekah. Sudah kuduga, dia memang menyukaiku. Tapi, bagaimana bisa dia menolakku? Entahlah, yeoja memang sulit ditebak isi hati dan pikirannya kan?

Semakin lama dengannya, aku semakin mantap memilihnya di banding yeoja-chingku yang lain. Benar, kekasihku tidak hanya Tya saja. Tapi ada juga Ha Neul, Soo Ae, Hyun Ah, dan Seo Hyun. Namun, Hyun Ae-lah yang kurasa tepat untukku. Ia yang begitu baik, lembut, perhatian dan penyayang. Aku yakin bersamanya aku bisa bahagia. Jadi, aku melamarnya. Berlutut di depannya, di depan ahjuma-nya, juga pembeli yang ada di tokonya sambil mengulurkan cincin.

“Maukah kau jadi istriku dan menjadi bintang yang menyinariku selamanya dengan senyumanmu?” kataku dengan suara dan lutut bergetar. Itu pertama kalinya aku melamar seorang yeoja dan di depan umum lagi.

Kulihat wajahnya bersemu. Tak lama kemudian ia mengangguk dan mengulurkan tangan kanannya. Pelangi serasa menaungiku. Lengkungan indahnya seperti hadir menghias sudut bibirku. Cepat aku memasang cincin di tanganku ini ke jari manis kanannya.

Aku setelah itu mengajak ia ke rumahku. Mengenalkannya sebagai calon istriku pada orang tuaku. Mereka tampak gembira sekali dan tidak terlalu mempermasalahkan dirinya yang menjual bunga selama ini. Merekalah yang menyarankan agar pernikahan kami berlangsung satu bulan kemudian. Tak perlu berlama-lama kata mereka. Syukurlah…

~end flashback~

***

 

Lalu, hari ini, sebagai salam perpisahan dengan kehidupan ‘main-main’-ku. aku sengaja jalan dengan kekasih-kekasihku yang lain dan memutuskan hubungan kami. Tiga sudah sukses kuputuskan, sedangkan yang satu ini, Ha Neul, agak sulit. Ia berulang tahun hari ini dan berbicara terus sejak ku ajak jalan. Ia menyeretku ke tempat-tempat yang ia suka. Membeli ini-itu. Kesal juga, tapi tak apalah. Biarkan dia bahagia sejenak. Nanti baru kuputuskan saat pulang.

Tanpa sempat kucegah, Ha Neul mencium pipiku. “Gomapta chagiya… Aku senang sekali,” ujernya lalu memelukku erat dan mencium pipiku sekali lagi.

Tak pernah kusangka hal buruk terjadi. Hyun Ae, orang yang paling kusayangi, paling berharga buatku, yang kuyakini adalah belahan jiwaku saat pertama kali melihatnya, yang akan jadi istriku sebulan lagi, mendapati diriku membiarkan Ha Neul memelukku dan mencium pipiku.

Tya menatapku dengan mata berkaca. “Waeyo…? Bukankah kita akan menikah?” tanyanya tercekat. Lalu meninggalkanku yang sakit hati melihat genangan air di mata indahnya.

***

 

(Even though I know how much you hate it

There is nothing else for me to do

In front of your house, I wait helplessly for you)

 

Pernahkah kalian merasa penyesalan yang begitu dalam? Sampai-sampai ingin memutar waktu dan merubah yang terjadi agar sesal itu tak mengiris hingga ke relung hati dan membunuh raga ini perlahan? Itulah yang kurasakan.

Aku masih di sini. Di bawah langit gelap tak berbintang. Di depan sebuah rumah di mana orang yang kukasihi ada di sana. Berharap ia keluar dan mendengarkan penjelasanku. Lalu  mengatakan, ‘Aku memaafkanmu,’. Sayangnya, itu tak terjadi.

Aku sudah menelponnya berkali-kali. Mengiriminya pesan. Menjelaskan kalau ia salah paham. Juga meminta ia memaafkanku. Tapi ia tak jua keluar menemuiku.

Aku pasti telah menghancurkan kepercayaannya. Akh… seharusnya tadi langsung kuputus saja si Ha Neul itu. Pasti tidak akan begini kejadiannya.

“Wae…? Bukankah kita akan menikah?” suaranya yang tercekat saat ia mendapatiku sedang bersama Ha Neul terngiang di telingaku. Aku mendesah.

Tak bisa kau memaafkanku? tanyaku sambil melihat ke rumahnya. Aku memutuskan pulang dan kembali lagi esok.

***

Aku ke rumahnya. Namun tak ada siapapun. Aku menelponnya. Tak ada jawaban. Sakit sekali rasanya diperlakukan seperti ini.

Kuputuskan menemuinya ke toko.

Ia melihatku masuk ke tokonya dan langsung berlalu.

“Hyun Ae-ah, chankaman!!” teriakku. Namun terlambat. Ia menuju pintu samping dan berlari ke jalan raya. Aku mengejarnya. Namun ia sudah menghentikan angkot dan masuk ke dalamnya sebelum sempat kucegah.

“Apa yang terjadi?” tanya ahjumanya yang sudah di sampingku.

Aku mendesah. Lalu kuceritakan semuanya.

“Bisa-bisanya kau begitu?” tanya tantenya Hyun Ae tidak terima. Ia menatapku penuh amarah.

“Saya sudah putus dengan Ha Neul, Ahjuma,” jelasku. Berharap ahjuma ini mengerti.

“Tapi baru kemarin kan? Baru ketika Hyun Ae memergokimu dengannya! Seharusnya aku tahu kau tidak serius, Nak!” ahjumanya Hyun Ae  menatapku kesal. Lalu masuk ke tokonya.

Aku mengatupkan bibirku. Kesal! Kenapa menganggapku salah?

Aku meraih HP-ku dan menelpon Hyun Ae. Tersambung. Aku menunggu dia menjawabnya. Namun sampai dering terakhir tak jua ia jawab. Aku mencoba sekali lagi. Menunggu lagi. Berkali-kali. Hyun Ae tetap tak menjawabnya.

Aku membuang napas. Mencoba mengusir rasa penyesalanku. Tak pernah aku semenyesal ini sebelumnya.

Aku menunggu sampai sore di depan tokonya. Hyun Ae tak jua kembali. Bahkan sampai tantenya pulang ia tetap tak muncul.

Aku menawarkan diri mengantar ahjumanya itu pulang, namun ia menolak. Ia sepertinya marah sekali. Membuat rasa penyesalanku makin dalam.

***

(No matter, no matter how miserable I am

There is nothing bigger than I losing you

In the same place, In front of your house, I wait)

 

Kuputuskan mendatangi rumah Hyun Ae lagi. Ia baru pulang saat hari telah menunjukan pukul delapan malam. Aku memanggilnya. Sedikit harapan timbul saat ia menoleh. Namun, hanya beberapa detik. Karena Hyun Ae memilih membuka pagar rumahnya tanpa berkata apa-apa padaku.

“Hyun Ae-ah!!” kutarik tangannya.

“Lepas!!” katanya sambil meronta. Ia menatapku dengan tajam. Tak ada lagi kelembutan yang selama ini kudapati di wajahnya. Aku terkesiap. Sebegitu kecewanyakah ia?

Hyun Ae masuk ke dalam halaman rumahnya dan berlari cepat ke pintu. Mengabaikanku yang terkejut melihat ia begitu kecewa padaku.

Aku pulang tanpa semangat sama sekali. Sesulit apapun masalah yang kualami selama ini, jauh lebih baik dari pada kehilangan kepercayaan dari orang yang paling dikasihi.

***

 

(To you who wouldn’t answer my calls anymore

To you who doesn’t even try to see me

No matter how much I beg, how much I seek for forgiveness

Even though it’s useless)

Esoknya aku memutuskan untuk berlutut di depan rumahnya sampai Hyun Ae memaafkanku. Ia  keluar rumah, nyata-nyata melihatku! Namun, ia justru bertingkah seolah tak mengenaliku. Ribuan taring serasa menggigiti hatiku.

 

(I stand in front of your house

Even if you pretend you don’t even notice me

And you pass by me as if I was someone you see for the first time

Until you hear my words, ‘I’m sorry’)

“Aku sudah putus dengannya!” kataku cepat. Langkah Hyun Ae terhenti. “Percayalah!! Aku ingin bersamamu! Selamanya…” kataku memohon. “Jeongmal mianhae…”

Orang yang kucintai itu diam beberapa detik sebelum akhirnya melangkah menjauhiku. Perih di hati kini menjalar ke seluruh  tubuh.

***

 

Waktu berlalu. Dan malam sudah menaungiku. Hyun Ae sudah pulang dua jam lalu. Ia masih bersikap acuh padaku. Apa ia tidak tahu bahwa sudah seharian aku berlutut di sini? Kepanasan… kehausan… kelaparan…

Pantaskah kamu menghukumku begini? Kesal hatiku. Ingin rasanya marah-marah padanya. Tapi, jelas aku yang salah.

Hyun Ae-ah… keluarlah… Katakan kau memaafkanku… Aku tidak sanggup kalau harus kau abaikan lebih lama lagi, batinku.

Lama aku menunggu. Hingga akhirnya kudengar pintu terbuka. Cepat aku mendongak. Kulihat Hyun Ae keluar dan…berhenti di depanku!!! Senyumku mengembang.

“Pulanglah…” katanya dari balik pagar rumahnya. Ia terdengar lelah.

“Tidak sebelum kau memaafkanku!” tegasku dengan nada penuh harap.

Hening…

“Tolong, maafkan aku… Itu tak akan terjadi lagi, aku janji. Aku sudah putus dengannya. Kau harus percaya padaku!” bujukku.

Hyun Ae mendesah. “Aku maafkan…” katanya tercekat.

Wajahku berbinar. “Jengmal?”

Ia mengangguk.

Aku berdiri dengan semangat penuh.

“Dan pernikahan kita, kita batalkan saja!”

“Eh?” Aku menatapnya tak percaya. “Kau bilang kau memaafkanku??”

“Memang. Tapi, pernikahan kita, kita batalkan saja. Aku tidak bisa hidup dengan orang yang tidak serius sepertimu!” katanya dingin.

Aku memandangnya tak percaya. “Kau bercanda kan?”

“Kau yang bercanda denganku, Jong Hoon-ssi!” jeritnya.

Ssi?? Dia menyebeut namaku begitu? Batinku syok.

Hyun Ae memandangku tajam. Aku bisa melihat matanya yang mengembun. “Kupikir kau benar-benar serius…” Ia membuang wajahnya lagi.

“Aku serius dengamu, Chagiya!!!” tegasku.

Hyun Ae menggeleng dan berbalik, menatapku.

“Kau yang sepertinya tidak serius! Masalah sekecil ini saja kau jadikan alasan untuk membatalkan pernikahan kita!!!” kesalku. Kutatap ia yang telah memandangku dengan tatapan tak percaya.

“Masalah kecil??” jeritnya. “Kau menduakanku! Sebelum menikah saja kau bisa menduakanku, apalagi setelah menikah!!!”

“Setelah menikah aku akan jadi lelaki setia!!!” teriakku.

Hyun Ae mendengus. “Cari saja orang lain yang bisa menerimamu!!” ujernya dengan mata berkabut lalu berbalik ke rumahnya. Dan… “BLAM!!!” Ia menutup pintu dengan kasar. Aku hanya bisa terpaku di tempatku berdiri.

***

 

(In a day I looked at the phone thousands of times

And one at small sound

I cheched to many times to see if it was a message of you)

Berkali-kali aku mencoba menemuinya, menghubunginya, Hyun Ae tetap mengabaikanku. Apa perasaannya berubah padaku? Apa dia tidak tahu diabaikan seperti ini jauh lebih sakit dari pada dimarahi habis-habisan olehnya?

Aku menarik rambutku. Frustasi. Aku tak mau kehilangannya. Apa masih belum cukup aku memohon seharian-semalaman kemarin? Apanya yang memaafkanku kalau begini???

Sebuah bunyi kecil terdengar. Cepat kulihat HP-ku. Ternyata hanya bunyi bahwa pesanku untuknya baru terkirim.

Kesal, aku melajukan mobilku ke tokonya. Dia ada di sana. Sedang menjualkan bunga lili pada pembeli. Aku mendekat dan dia sengaja mendekati pembeli lain. Pura-pura tak melihatku. Dengan sengaja pula, aku mendekatinya.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya akhirnya meski terkesan dingin dan tanpa menatapku.

Aku menatapnya tak percaya. Ia bertingkah seolah aku orang asing. “Aku ingin kita bicara sebentar. Bisa?” tanyaku.

“Mian,” ujernya lalu menghampiri pembeli yang baru masuk.

“Harus bagaimana aku agar kamu percaya kalau aku serius?” tanyaku sambil menahan perih yang kembali menusuk hati.

Hyun Ae tak menyahut. Ia berpura-pura sibuk melayani pembeli.

Aku menghela napas lalu memilih menunggunya di luar.

***

 

Sebuah ide muncul di kepalaku. Kurasa dengan cara ini Hyun Ae akan mempercayai keseriusanku dengannya. Kulangkahkan kakiku ke mobil dan melajukannya usai mengirim pesan:

“Kamu bisa melihat keseriusanku. Aku pergi untuk memesan tempat pernikahan kita dan resepsinya. Juga memesan undangan untuk mengundang teman-teman kita, dan keluarga kita. Kamu tulis saja siapa yang ingin kamu undang. Besok aku akan datang mengambilnya.”

***

Esoknya aku datang, tapi Hyun Ae tak kutemukan. Di tokonya hanya kutemukan tantenya saja. Ia tak mau mengatakan di mana orang yang sangat kurindukan itu sekarang.

Aku masih berusaha. Tetap mempersiapkan pernikahan kami dan mengabari padanya. Berharap ia kembali padaku dan mau menikah denganku.

“Urusan tempat pernikahan dan resepsi kita sudah selesai. Undangan baru jadi tiga hari lagi. Kamu di mana?” Tulisku. Kukirim. Laporannya menyatakan, ‘Terkirim ke: Hyun Ae, nae chagiya’.

***

Hari berikutnya…

“Aku sudah menyerahkan beberapa undangan ke tantemu. Ia tampak tak percaya, tapi kuharap kamu percaya. Ini bukti keseriusanku. Hari ini aku mau memesan pakaian untuk pernikahan dan resepsi kita. Bisa aku menjemputmu?” terkirim ke: Hyun Ae, nae chagiya.

Hari berikutnya…

“Kamu tidak menjawab, jadi kuputuskan memesan sesuai perkiraanku saja. Kalau kamu keberatan dengan pilihanku, dan ukuran yang kusebutkan salah, kita masih sempat memperbaikinya. Aku bisa menemanimu ^^ Di mana kamu sekarang?” terkirim ke: Hyun Ae, nae chagiya.

Hari berikutnya…

“Aku baru memesan kue pengantin. Juga makanan untuk tamu kita. Aku di temani Mama. Dia heran kenapa hanya aku yang mengurus pernikahan kita ^^. Jadi, di mana kamu? Boleh ku jemput?” Gagal terkirim ke: Hyun Ae, nae chagiya.

Aku terpaku. Berkali-kali kulihat layar HP-ku. Berkali-kali aku menghubungi nomor Hyuun Ae, tetap tak aktif. Aku memutuskan bertanya ke tantenya. Tapi ia hanya bilang, “Berhentilah. Ia sudah terlanjur kecewa.”

Undangan yang kuberikan tiga hari lalupun tentenya kembalikan. Hatiku tak lagi sekedar sakit, tapi juga nyeri tak tertahankan.

(At first, at first I though that like after an ususal fight

I though you would come back

That you where too kind to leave me this hardly)

Tamat

 

Palangkaraya, 15:55 WIB

09/02/2011

 

2 Komentar

  1. kerennnn critax,,,,,>o<

  2. Hehe, gomaweo… =3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: