Cerpen Kenangan Di Hatiku


Kenangan Di Hatiku

Oleh Imah_HyunAe

Adaptasi dari kisah nyata seseorang ^^d (50% nyata, 50% lainnya fiksi, hehe…)

 

Ada sebuah kisah yang ingin kubagi denganmu, Kawan. Tentang seseorang yang tak meninggalkan kerugian apapun saat aku putus dengannya, tapi justru menimbulkan rasa penyesalan. Seseorang yang berharga karena kebaikannya. Seseorang yang seharusnya kujaga namun kulepas karena rasa bosan yang melanda hati ini.

Ah, Kawan. Kau benar. Itulah yang kusesalkan. Karena aku tak akan mungkin menemukan lelaki sebaik dia lagi.

***

Awal pertemuanku dengannya adalah dua tahun lalu. Saat aku masih di semester 6, Kawan. Waktu itu, aku berkunjung ke kosan temanku, Irma. Aku tak tahu kalau seseorang memperhatikanku, sampai akhirnya saat aku sudah kembali ke kosku, Irma mengirim pesan bahwa ada seorang laki-laki, tetangganya, yang ingin minta nomor HP-ku. Ia ingin mengenalku ketika ia tak sengaja melihatku di tempat Irma.

Seperti kebiasaanku sebelumnya, Kawan. Aku tidak akan memberikan nomor HP-ku kalau belum bertemu dua kali. Jadi, kubalas pesan Irma tersebut dengan, “Katakan padanya, tunggu dia bertemu denganku kedua kalinya.”

“Sudah kukatakan,” balas Irma beberapa menit kemudian. Senyumku merekah. Seperti apa ya, orang yang ingin tahu nomor HP-ku ini? Tampan kah?

Ah, jangan tertawa, Kawan. Memang begitulah aku kalau ingin berkenalan dengan orang baru, terutama laki-laki. Yang kupikirkan pasti ‘tampankah’. Meski aku tahu tampan bukan ukuran untuk menilai tingkah lakunya.

Makin lama, rasa penasaranku makin menjadi, Kawan. Aku tahu lelaki itu tidak mungkin bisa bertemu denganku kecuali aku ke tempat Irma. Jadilah, agar pertemuan kedua itu terjadi, aku sengaja ke tempat Irma di hari lainnya. Dan dengan heboh menanyakan, “Bagaimana dia?”

Irma mendelik sambil tersenyum menggoda. “Kenapa? Penasaran ya?”

“Tidak juga,” elakku.

“Dia tampan, lho,” godanya.

Aku membulatkan mataku, tak percaya. “Benarkah?”

Irma mengangguk pasti. “Dia juga sudah bekerja.”

“Oh… berapa memang umurnya?” tanyaku. Ada sedikit kecewa. Yah, jangan-jangan dia –lelaki itu- tua.

“Jangan berpikir dia perjaka tua.” kata Irma sambil tertawa seolah bisa membaca pikiranku. “Paling hanya berbeda dua tahun dengan kita.”

Mataku kembali berbinar.

“Tapi biasanya dia akan pulang sore nanti. Sekitar pukul lima.”

Aku mendesah. Lama sekali. Sekarang baru jam dua siang.

 

Penantian panjang itu berakhir juga akhirnya. Sosok yang dinanti baru saja melintas di depan kos Irma pukul lima lewat sepuluh menit.

“Itu dia,” bisik Irma. “Tampan, kan?”

Aku mengangguk dengan mata terus terpaku pada sosoknya yang berlalu. Sosok tinggi, berkulit putih, berwajah bersih, dan tampan!

“Namanya Fahri.” Ah… aku baru sadar belum menanyakan nama lelaki itu pada Irma sebelumnya, Kawan. Menggelikan bukan?

Akhirnya, aku mengijinkan Irma memberikan nomor HP-ku padanya.

 

Malam, sekitar pukul delapan, pesan masuk ke HP-ku.

“Malam Maya…”

Aku mengeryit. nomor asing. Apakah ini pesan dari Fahri? Batinku.

Dengan gugup aku membalas, “Malam. Maaf, ini dengan siapa ya?”

“Ini aku, Fahri. Tetangga Irma. Salam kenal ^^.”

Senyumku merekah. Benar dari dia, Kawan. Akh… rasanya hatiku bermusik dengan riang.

“Salam kenal juga ^_^” balasku.

Beberapa hari saling mengirim pesan, Fahri baru berani mengajakku bertemu. Aku memberitahukannya alamat kosku. Dan siangnya, saat jam istirahat kerjanya dia datang dengan membawa es krim coklat kesukaanku. Aku senang bukan main. Ini hal istimewa buatku. Karena tanpa bertanya, dia tahu kesukaanku. Atau jangan-jangan semua wanita memang menyukai es krim coklat ya? ^^

Kami membicarakan banyak hal waktu itu. Dari masalah kuliah, berita, film, dan hal lainnya. Kami ternyata punya hobi yang sama. Itu  membuatku semakin merasa cocok dengannya, Kawan. Semoga diapun begitu padaku.

Dua bulan kami berteman akrab. Lalu, hari itu, di malam tahun baru, dia mengajakku merayakannya bersama. Kami makan malam, lalu berkeliling bundaran sambil menunggu pesta kembang api dimulai. Kegugupanku makin menjadi saat dia mengajakku duduk di salah satu café jalanan dan menatapku lekat.

“Aku menyukaimu,” ujernya dengan suara bergetar. Pasti gugup.

Wajahku menghangat seketika, Kawan.

“Maukah kau menjadi pelangi yang indahkan hari-hariku?” sambungnya. Darahku berdesir indah dan wajahku makin menghangat. Kuberanikan menatap kedua mata hitamnya. Mencari kebenaran di matanya. Lalu, dengan jantung berdebar tak karuan, aku mengangguk. Ia tersenyum lebar.

Beberapa menit kemudian, pesta kembang api dimulai. Semakin mengindahkan malam jadian kami. Malam yang tak pernah bisa aku lupakan, Kawan.

Waktu berlalu. Aku menyukai kelembutan sikapnya. Tapi, keanehan mempengaruhi pikiranku. Kami memang pacaran, namun selama jalan berdua, dia tak sekalipun memegang tanganku. Bahkan ketika kami duduk berdampingan pun, dia tak sekalipun berniat menyentuhku. Aku kagum pada perlakuannya, namun sekaligus curiga. Jangan-jangan dia tak punya rasa padaku. Jangan-jangan dia hanya menjadikanku tameng. Jangan-jangan dia tidak menyukai perempuan. Jangan-jangan dia gay. Pikiran-pikiran aneh ini makin menjadi saat aku melihat dia begitu mudahnya menangis karena film sedih yang kami tonton bersama, atau saat aku kesal dengannya dan bilang putus.

Ya, aku tahu, lelaki juga manusia, Kawan. Punya hati juga. Tapi, tidak perlu sampai menunjukan tangisnya di depan kekasihnya, kan? Huh…

Ah… Seharusnya aku tidak berpikiran begini waktu itu, Kawan. Seharusnya aku bersyukur karena mendapatkan kekasih yang begitu menjagaku dan mempunyai hati selembut kapas.

***

 

Waktu terus berlalu. Fahri tak pernah sekalipun bersikap tegas padaku. Coba pikirkan, Kawan, aku yang sengaja mengacuhkannya (maksud hati ingin melihat bisa tidak dia marah kalau tahu sebenarnya aku yang salah), dia malah mengirimiku pesan ratusan kali, menelponku puluhan kali, hanya untuk minta maaf atas kesalahan yang kusengaja, bukannya membela diri dan menyatakan bahwa akulah yang salah. Malah dia mau saja kuminta menulis kata “Maafkan aku, Maya. Aku tak akan mengulanginya lagi, aku berjanji” sebanyak seratus kali.

Kemudian, suatu hari saat dia berkunjung ke kosku, aku iseng bertanya, “Kalau aku memintamu melompat ke sungai, apa kamu mau melakukannya?”

“Kalau itu permintaanmu, akan kulakukan!” ujernya dengan nada lembut seperti biasa.

Hah? Aku menatapnya tak percaya. Aku rasa ia terlalu ‘lembek’ jadi laki-laki, Kawan. Aku tak mau punya kekasih yang lembek seperti itu. Sudah tahu itu hal bodoh, kenapa masih mau melakukannya? Paling tidak, dia bertanya dulu, apa alasanku hingga aku ingin dia melompat ke sungai, kan? Jangan langsung setuju begitu! Ugh…

Akhirnya, aku sampai pada batas akhir kebosananku, Kawan. Aku meminta putus dengannya. Dia menatapku dengan mata berembun. Hei, kau laki-laki. Tegaslah sedikit!!!, teriak hatiku kesal.

“Kenapa?” tanyanya dengan nada menyayat hati. Ya Tuhan…

Aku mendesah. “Maaf… mungkin aku bukan yang terbaik untukmu…” ujerku datar.

Dia diam dan menunduk. Air matanya menitik ke lantai kosku.

“Maaf…” kataku sekali lagi.

Dia menghela napas lalu menyeka air matanya. Kemudian pergi dari kosanku tanpa mengucapkan sepatah katapun. Kurasa ia sangat terpukul. Aku sebenarnya tidak tega. Tapi aku juga sudah terlalu lelah dengan sikap lembeknya. Maafkan aku, Fahri…

Aku menatap punggungnya yang menjauh. Ada sedih yang menggelayut diiringi rasa sesal. Namun, aku sudah memutuskan, bukan?

***

Lama aku dan Fahri tak bertemu, Kawan. Kami bertemu lagi setelah hampir setahun perpisahan kami. Ia sudah punya kekasih baru begitupun aku. Kami saling menanyakan kabar dan bercerita tentang masa-masa setelah perpisahan kami terjadi.

Ada perasaan lain yang menyusup di hati saat melihatnya. Sesal sekaligus kagum. Menyesal karena lelaki di depanku telah bersama orang lain. Kagum karena dia masih sebaik dulu. Ah, betapa beruntungnya kekasihnya sekarang, Kawan, karena akan menikahi lelaki sebaik dia.

Sedang aku, kekasih baruku jauh berbeda dengan Fahri. Kekasihku itu lelaki yang sama keras kepalanya sepertiku, Kawan. Lelaki yang sering membuatku kesal dan menangis. Lelaki yang tak pernah sekalipun meminta maaf meski kupaksa mengatakannya agar aku tak kesal dengannya. Lelaki yang dulu, sebelum dia menyatakan cintanya, sudah berani memegang tanganku. Lelaki yang meski banyak kekurangannya, aku tetap mencintainya.

***

Hari ini, hari yang membuat rasa kehilanganku makin nyata. Fahri, lelaki baik dan lembut perangai dan hatinya, melaksanakan resepsi pernikahannya dengan kekasihnya. Senyum bahagia menghiasi wajahnya.

Aku datang bersama kekasihku dan mengucapkan selamat padanya. Dia tersenyum lembut.

“Terima kasih,” ujernya tulus. “Semoga kalian cepat menyusul,” sambungnya.

Aku tersenyum dan mengamini dalam hati. Sementara itu, kekasihku berkata, “Pasti. Bulan depan setelah dia diwisuda, kami akan menikah.”

Aku menatap Fahri, lelaki yang kini jadi kenangan terindah di hatiku. Dia tersenyum dengan tulus.

“Kalau begitu jangan lupa undang kami, ya?” ujer kekasih Fahri yang kini sudah resmi menjadi istrinya.

Aku dan kekasihku mengangguk bersamaan.

_Tamat_

Catatan: Buat kamu yang meminta aku menuliskan kisah cintamu, aku minta maaf kalau ini tidak sesuai harapanmu. Cerita ini sedikit banyak diadaptasi dari kisahmu, namun kamu tahu sendiri di mana letak perbedaannya. Mohon tidak kecewa. Dan, terima kasih karena ceritamu menambah inspirasiku, hehehe… ^^ Jika kamu malu, jangan akui ini (di sini) sebagai kisahmu, OK *peace* hehehe…. (^_^)V

 

Palangkaraya, 07:58 WIB

11/02/2011

2 Komentar

  1. hikarihamzah

    Speechless deh, kan kisah cinta orang

  2. Klo sya malah mikir, bkalan ngerasa bosan jg ga y pux cwo kya gtu, xixixi ^^a
    makasih ats knjungan n komentarx =>

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: