Aika: Di Batasku


Aika: Di Batasku
oleh Imah_HyunAe

Aika meringis kesakitan di depan komputernya yang menampilkan microsoft word. Di gigitnya bibir bawahnya demi menahan sakit. Ia memang sudah sering mengalaminya setahun terakhir namun ia pikir ia hanya kelelahan saja akibat terlalu sering dan lama mengetik. Sayangnya kenyataan berkata lain. Setelah ia menggigil hebat dan tak sadarkan diri, orang tuanya membawanya ke rumah sakit. Dokter umum di sana meminta mereka menemui dokter spesialis.

Dunia serasa gelap saat vonis itu ia dengar. Osteosarcoma, jenis kanker tulang paling ganas, ada di tubuhnya. Sumber awalnya ada di lengan dan kini sudah menyebar ke bagian tubuhnya yang lain.

Dengan susah payah ia membuka laci mejanya. Mengeluarkan obat penghilang rasa sakit dan meminumnya. Napas lelahnya terdengar. Cukup lama ia meremas lengannya, menahan gigil yang menusuk, hingga akhirnya sakit yang disertai rasa ngilu itu menghilang. Ia menghela napas panjang. Lantas melanjutkan kegiatannya, menulis.

Benar. Ia seorang calon penulis besar, setidaknya itu yang selalu ia yakinkan pada dirinya meski karya tak satupun menembus media cetak apalagi penerbit.

Ia memilih menerbitkan karyanya di blog pribadinya. Berharap pengunjungnya makin banyak dan penerbit ada yang melirik karyanya sehingga bisa dibukukan. Sayangnya hingga kini hal itu tak terjadi.

Pandangannya mengabur. Telaga kesedihan menggantung di matanya. Ia tahu harapannya agar karyanya menghasilkan uang tak akan terwujud. Apalagi dengan kondisinya yang sekarang. Kemungkinan terbesar, blognya hanya akan jadi kenangan. Dan harapannya agar dapat membantu ekonomi keluarganya yang sering naik-turun tetap menggantung di angkasa.

Airmatanya luruh. Tangannya kini tak mampu menari leluasa di atas keyboard. Ia tak akan bisa lagi menulis apa yang berputar-putar di pikirannya.

Ia tergugu kini, dengan kepala jatuh mengenai keyboard. Sudah 1 bulan, dan ia tidak berhasil menerbitkan satu tulisan pun di blognya! Ia benci keadaan ini! Benci dengan harapannya yang kini semakin buram. Ia marah! Kenapa penyakit itu ada padanya dan mengubur harapan terbesarnya?!!

Ia mematikan komputernya dengan penuh emosi. Lalu membenamkan kepalanya pada bantal. Menangis sejadi-jadinya di sana.
***

Lama, Aika menatap komputernya.
Sudah berapa lama ia tak kunjungi blognya? Sudah berapa lama ia tak menulis?

Senyum pedih terukir di wajahnya saat batinnya menjawab, 5 bulan. Ada sesak menyeruak di dadanya.

Pelan, ia membuka blognya. Melihat kunjungan yang masih di bawah 50 perhari ia tersenyum tipis. Ia lalu mengklik menu ‘Tulisan Baru’ dan mulai menekan satu-satu huruf di sana.

===
Di Batasku

Aku genggam asa
Lalu jatuh karenanya

Ringisku tak ia dengar
Lelah ku tahan getir
Tak jua ia peluk aku dengan gemintang

Peluhku bak rinai hujan
Namun ia anggap itu genangan tak bertuan

Letih…
Kupilih menghilang,
Walau harap itu tampilkan riak rindu!
Walau ku tahu ia tak akan tidur!
Karena aku sudah di batasku…
===

Aika tersenyum getir. Dikliknya ‘terbitkan’ dan air matanya mengalir bagai banjir bandang.

TAMAT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: