Sahabat Selamanya


Sahabat Selamanya

Oleh: Imah_HyunAe

Hari ini teman yang heboh itu jadian. Farid terlihat senang sekali. Lega, akhirnya tidak dia sendiri saja yang merasakan betapa bahagiannya punya kekasih.

Farid pacaran sama Rosa dan temannya itu pacaran sama Alex, cowok terpopuler di sekolah mereka.

Hm… bisa double  date nih, batin Farid senang. Bagaimana tidak senang, kalau inilah yang selalu diharapkannya setiap malam, hampir dua bulan, setelah dia pacaran sama Rosa. Kalau dia kencan dan bergembira ria dengan kekasihnya sementara teman baiknya itu cuma bisa melamun sendirian di rumah, batinnya selalu merasa tidak enak. Yah… bisa dibilang semasa dia tidak punya kekasih, temannya itulah yang menemaninya. Bahkan mereka sering jalan-jalan berdua di malam minggu. Nah, karena sudah punya kekasih, pastinya dia jalan dengan kekasihnya kan?! Keadaan seperti itu mana enaknya.

Untunglah, sekarang sudah berbeda. Sabahat terbaiknya sudah punya kekasih juga sekarang. Jadi, kalau malam minggu sahabatnya tidak sendiri lagi, hehe…

Perasaan tidak enak karena antar-jemput kekasihnya pun otomatis hilang juga. Karena, pastinya, teman sehidupnya itu akan diantar sama yayang tercintanya.

“Cie… selamat ya, Ly,” gumam Farid bahagia. Wajahnya terus berseri-seri melihat foto sobatnya sejak kecil itu.

Blezt!

Bayangan Rizka hadir di benak Farid seketika. Sosok Alex pun juga hadir tanpa bisa dia singkirkan.

Rizka adalah sepupunya Lily, sahabatnya itu. Dan Alex adalah mantan kekasih Rizka. Mengingat hal tersebut, membuat hati Farid yang semula senang, jadi tidak enak lagi.

Yup! Hubungan Rizka sama Lily terpaksa retak gara-gara hal itu. Gara-gara cowok berwajah mirip dengan Justin Beiber itu. Bahkan Farid yang tingginya dan potongan rambutnya hampir sama seperti Jang Geun Seok -aktor korea yang memerankan sosok Hwang Tae Kyung di drama korea You Are Beautiful, kalah!

Hm… begitulah orang kalau sudah dibutakan cinta, batin Farid lagi sambil geleng-geleng kepala.

***

Farid, cowok yang keimutannya hampir sama dengan Jang Geun Seok itu, sejak dulu memang sudah imut. Karena keimutannya itulah anak-anak yang lain tidak mau dekat dengan dia, kecuali Lily. Mungkin mereka merasa kalah saing, atau mungkin tak suka melihat tubuh Farid yang padat berisi. Sedangkan Lily, siswa putri berwajah cemberut dan galak itu membuat siswi lainnya tidak mau bermain dengannya. Alasan lainnya, karena Lily tidak punya ayah.

Farid yang memang berhati kapas –putih dan lembut, mendekati Lily. Awalnya hanya diam-diaman saja. Tapi lama-lama, karena merasa senasib, mereka menjadi teman. Tak disangka semakin hari mereka semakin akrab, lalu tanpa sengaja keakraban itu mengesankan mereka seperti lem dan prangko, seperti meja dan kursi, seperti gula dan semut, hehehe…

Begitulah… Di mana ada Farid, pasti di situ ada Lily. Karena itulah sekolah mereka sama sampai sekarang. Bahkan terkadang, jika tidak sekelas, mereka memaksa untuk sekelas. Walaupun sebenarnya hasilnya tetap tak berubah, seperti di SMA sekarang ini. Lily di ruang tiga, dan Farid di ruang dua.

Hm… waktunya menceritakan tentang Farid yang sekarang sudah populer di kalangan siswi.  Dia menyadari tubuh besarnya itu saat kelas empat SD. Dia diet. Di SMP, tubuh tingginya mulai kelihatan. Dan parasnya sedikit demi sedikit menampakkan pesonanya. Di SMA, kepopuleranpun menyebar sempurna. Dari kelas X sampai kelas XII semua kenal siapa dia. Namun, dia tidak sombong karena hal itu. Dia tidak pernah sedikitpun mengabaikan sahabatnya yang dijuluki teman-teman di kelas sebagai ‘si muka tembok’. Sebutan yang menunjukkan kalau sahabatnya itu tidak tahu malu. Tidak sadar kalau parasnya yang biasa saja tidak pantas berdiri di samping Farid sebagai sahabat dekat.

Tapi dari pandangan Farid, Lily adalah segalanya. Orang-orang boleh mengejek dirinya semau mereka, tapi tidak untuk Lily. Mereka boleh membuat hubungannya rusak dengan Rosa, itu bukanlah masalah besar bagi Farid. Asal jangan merusak hubungannya dengan Lily. Farid tidak akan pernah rela! Prinsipnya, Boleh meninggalkan pacar, tapi tidak boleh meninggalkan Lily!

***

Ada yang berbeda dari lekuk wajah Lily hari ini. Tampak jelas di wajahnya guratan luka yang menyayat hati. Farid yang sedang duduk di kantin bersama Rosa menatap sahabatnya itu lekat-lekat. Apa yang terjadi? Bukankah kemarin waktu ditelpon masih baik-baik saja?, batinnya heran.

Sosok Alex dan teman-temannya melintas. Hendak keluar kantin sepertinya. Namun langkah mereka terhenti ketika melihat sosok Lily yang tengah murung itu.

“Eh, ada pacarmu tuh!” Si Tono, cowok berambut jabrik, menegur.

“Hey, dia kan bukan pacarnya lagi! Alex sudah mengambil keputusan yang tepat untuk seumur hidupnya!” sahut cowok berkulit putih berkaca mata di samping Tono.

“Keputusan apa?” tanya yang lain sok antusias.

“Apa lagi kalau bukan putus dengannya!”

Mereka tergelak.

“Sudah ganti status jadi mantan ya,” cowok berambut ikal mayang di samping kirinya Tono mencolek Lily.

“Bukan mantan guys. Mantan kebagusan. Yang bener itu ‘bekas’ pacarnya Alex,” kata Tono lagi.

Gelak tawa mereka membahana. Alex tampak menyunggingkan senyum sinis.

By the way, Lex. Kenapa kamu mau pacaran sama dia kemarin? Dia kan tak ada bagus-bagusnya?!” Tanya si kaca mata.

Alex mendengus. “Ya, biar aku bisa menyakiti hati Rizka yang sok tegar itu! Dia kan sepupunya. Rumah berseberangan pula! Pastinya sukses bikin si Rizka sakit hati.”

“O… Tidak ada cinta sama sekali rupanya,” ejek si ikal mayang. Lily menunduk dalam.

“Sudahlah, kita cabut dari sini.” Alex melangkah pergi, diikuti yang lainnya.

Lily mengambil lembaran uang sepuluh ribuan untuk membayar pesanannya. Diletakkannya uang itu di atas meja. Masih dengan wajah yang menunduk dia meninggalkan kantin.

“Huu…” koor mengejek meluncur mulus dari mulut siswa yang ada di kantin itu, kecuali Farid.

Dengan penuh emosi Farid menghentak meja dan berdiri.

“Kamu kenapa, Rid?” tegur Rosa yang duduk di sampingnya.

“Aku tidak terima mereka menghina Lily seperti itu!” Farid menatap Rosa tajam.

“Suka-suka mereka dong, Rid. Lagipula itu kenyataan, sayang.” Rosa meraih tangan Farid. “Biar si muka tembok itu-.”

Bugh!

Farid menghempaskan tangan Rosa dengan kasar. Seketika kalimat Rosa terhenti.

“Jangan sebut dia dengan sebutan itu! Kau sama saja dengan mereka!!” Farid emosi.

“ Baiklah…” Rosa melemah. “Maksudku biar dia itu sadar kalau dia sebenarnya ‘tidak berharga’ sama sekali!” lanjut Rosa dingin.

Pyass!

Farid menyiram Rosa dengan jus yang tadi dipesannya.

“Farid?!!” Rosa terbelalak.

“Jangan pernah menyebutnya ‘tidak berharga’! Asal kau tahu! Dia sahabatku yang paling berharga, TAHU!!”

Rosa tersenyum sinis. “Buka matamu, Rid. Dia bukanlah sahabat yang baik. Bisa-bisanya dia membuang sepupunya sendiri cuma demi cinta cowok itu! Bisa saja kan, dia membuangmu juga nantinya?”

Farid balik tersenyum sinis. “Aku tidak Pe-du-li!” tegas Farid. Iapun mengambil langkah.

“Kalau kamu pergi kita putus!!” ancam Rosa.

Farid terus melangkah.

“Jadi dia lebih berharga dari aku?” teriak Rosa. Langkah Farid terhenti. Senyum Rosa merekah ketika dilihatnya Farid berbalik.

“Iya!” tegas Farid. “Baru tahu?” sinisnya lantas melangkah lagi.

Rosa menghentakkan kakinya ke lantai. Kesal.

***

Farid mengedarkan pandanganya ke penjuru koridor. Sejak tadi dia belum menemukan sosok Lily hingga bel pulang berdentang. Farid memacu langkahnya lagi.

Di dekat perpustakaan langkah Farid terhenti. Retinanya menangkap sosok Lily yang berdiri dengan kepala tertunduk. Tetesan air jatuh ke lantai. Lily… menangis…

Seketika hati Farid terasa sakit.

“Hei!” sapa Farid sembari mendekat.

Lily segera menyeka air matanya.

“Tahu tidak, aku baru putus dengan Rosa lho.” Farid menyandarkan tubuhnya di dinding ketika dia sudah di samping Lily sambil mengatakan kalimat tersebut dengan santai. Pandangannya lurus ke depan.

Dengan mata merahnya Lily menatap Farid.

“Mana mau aku jalan sama orang yang menjelakkanmu. Secantik apapun dia,” Farid menatap Lily, “kalau tidak bisa menghargaimu, jangan harap bisa pacaran sama cowok setampan aku ini,” sambung Farid sambil menepuk dadanya bangga.

“Huu… sombong!” Lily memukul pundak Farid pelan.

Cengiran khas cowok bermata sipit itu muncul.

“Seandainya aku bukan Lily, Rid.” Suara Lily tertahan.

“Hei, kalau kau bukan Lily, berarti aku bukan sahabatmu dong?! Maaf mbak, saya salah orang.” Farid membungkukkan badannya. Bercanda.

Senyum Lily merekah. “Kau ini!” desisnya menahan tawa.

Come on! You not alone, baby. I’ll always with you, my close friend forever.” Farid tersenyum hangat.

Thanks…” senyum Lily kembali mengembang. Butir-butir kesedihan mulai terangkat dari wajahnya.

Akan seperti apa ya kalau mereka menyadari sebenarnya mereka saling jatuh cinta?! ^_^

-end-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: