Rasa Sakit Cinta


Rasa Sakit Cinta

Oleh Fajerul Khatimah

Nama Pena: Imah_HyunAe

 

Perasaan ini datang tanpa kuduga. Hadir di hatiku dan bersemi pada orang yang sebenarnya pasti tak bisa ku suka. Karena tipeku adalah lelaki tinggi, putih, bermata tajam, dan punya kesukaan dan hobi yang sama denganku, plus gagah. Dan semua itu tidak ada pada dirinya.

Ia masih menempelkan hpnya di telinganya. Masih berbicara pada seseorang dengan wajah bahagia. Sesekali ku dapati senyum kecil menghiasi wajahnya.

Dalam diam, aku masih memperhatikannya.

“Di?”

“Eh?” aku tak sadar dia telah menatapku sekarang.

“Kau melamun ya?” Senyum lembut menghiasi wajahnya.

Aku tersnyum canggung sembari mengangguk.

Dia mengacak-acak rambutku dengan tangan kanannya.

Aku kembali merasakan degup jantungku yang tak berdegup seperti biasanya.

Dia sekarang duduk di depanku.

“Ya, Kak?”

“Maaf, sore nanti sepertinya aku tidak bisa menemanimu ke toko buku. Barusan Siska memintaku menemaninya membeli perlengkapan lukisnya. Tidak apa-apa kan?”

Hatiku  tiba-tiba terasa sakit. “Mm-mm… Tidak apa-apa.” ^_^

“Aku janji lain kali pasti kutemani.”

Aku mengangguk. Dan gerimis langsung menyinggahi hatiku.

***

 

Namanya Apri. Dia senior sekaligus tetetanggaku. Aku cukup akrab dengannya. Sudah terbiasa dengan kelembutannya. Dan itulah yang membuatku sangat yakin cintaku tak akan jatuh padanya.

Tapi… entah sejak kapan keyakinanku salah.

Dia yang lembut, feminine, dan pembersih itu tiba-tiba mengisi satu tempat istimewa di hatiku. Padahal dengan sangat kutahu, di hatinya sudah ada orang lain. Seorang gadis paling cantik dan baik di jurusan lukis. Namanya Siska.

Cinta datang tanpa alasan. Tanpa mempedulikan logika. Dan kadang tak tepat pada waktunya. Itulah yang aku dan Apri alami.

Jelas-jelas kami semua yang ada di fakultas seni ini tahu Kak Siska masih memberikan tempat di hatinya untuk Raka. Cowok imut plus gokil yang sudah 6 bulan  meninggalkan dunia ini. Semua tahu betapa sedihnya Kak Siska. Semua tahu betapa mereka saling mencintai. Semua tahu mereka seharusnya menikah di 6 bulan lalu itu.

Semua juga tahu… bahwa hingga kini cincin pertunangan Kak Siska dari Kak Raka masih melingkar di jari manisnya.

Ah, aku belum cerita bagamana aku bisa mengenal mereka. mereka sahabat Kak Apri. Ketika Kak Apri mengetahui aku masuk jurusan seni juga, dia merayakannya bersamaku di sebuah rumah makan kesukaannya. Ia mengundang teman-temannya, Siska dan Raka. Sejak saat itu aku jadi dekat dan bersahabat dengan mereka.

Duka itu masih menghias wajah Kak Siska. Masih sama seperti saat dia diberi tahu Kak Raka kecelakaan. Sama seperti saat ia menangis hebat dengan gaun pengantinnya sambil memeluk sosok Kak Raka yang memakai jas namun sudah tak bernyawa.

Aku, dengan sangat jelas tahu, persaan Kak Apri pada Kak Siska sudah sejak lama ada. Sudah sejak dia masih di sekolah menengah. Sejak aku masih tak tahu apa itu cinta.

Tapi saat itu perasaanku padanya hanya sebatas adik dan kakak. Tak lebih.

Sakit… kurasai sakit di hatiku. Aku melihat Kak Apri berlari di tengah hujan seusai Kak Siska menelpon, memintanya datang. Sekedar menemaninya karena hari ini adalah hari ulang tahun Kak Raka.

Dengan lamban aku mengukuti jejaknya yang lenyap di sapu air hujan. Dia sudah tak ada di pandanganku. Tapi ku tahu dia menuju pantai. Tempat Kak Siska berada sekarang.

***

 

Aku menghentikan langkahku. Tiga meter di depanku ku lihat Kak Apri memayungi Kak Siska.

Bodoh! Seharusnya dia memakai payung itu sejak tadi! Kenapa memilih berlari dengan basah kuyup begitu.

Tapi aku lebih bodoh. Membeku di bawah guyuran hujan saat melihat Kak Siska memeluk erat Kak Apri. Ku lihat bahunya bergetar hebat. Dia..pasti menangisi Kak Raka lagi. Dan Kak Apri, dia tak berkata dan melakukan apa-apa. Hanya diam. Membiarkan Kak Siska melampiaskan perasaan rindunya untuk Kak Raka.

‘Kenapa kakak tidak melihatku? Ada aku, Kak. Ada aku yang mencintaimu. Kenapa masih mengharapkannya?’ batinku pilu.

Aku tahu pasti saat ini Kak Apri mengatakan, ‘lihat aku Siska, ada aku yang mencintaimu sejak lama? Tak bisa kah kau berikan rindumu itu untukku?’ di hatinya pada Kak Siska.

***

 

Aku masih di pantai.

“Kau di sini?” katanya terkejut mendapatiku ketika dia hendak pulang dengan Kak Siska di punggungnya. Kak Siska sedang tidur ketika itu.

“Ng…” aku mengangguk gamang.

“Bodoh..” katanya lembut. “Kenapa hujan-hujanan? Lihat! Kau pucat dan kedinginan kan? Ayo!” ia menarik tanganku. Apa dia lupa Kak Siska masih di gendongnya?

“Tidak. Kakak mengantar Kak Siska saja. Aku… akan baik-baik saja. Aku…bisa pulang sendiri.”

“Sungguh?”

“Hm-mm…”

“Kalau sudah pulang, sms aku.” Aku mengangguk dan ia berlalu pergi.

***

 

Aku memandang lautan di depanku. Sudah sejak 6 jam lalu cuma itu yang kulakukan.

Hujan sudah mulai reda. Tapi gigil di tubuhku semakin meningkat.

Aku berdiri, hendak pulang. Ah, pandanganku kabur… tubuhku oleng!

“Diana?!” suara Kak Apri.

Aku merasa Kak Apri menggendong tubuhku di punggungnya.

“Kak…” panggilku lirih.

“Sudah ku bilang pulang kan?”

“Maaf…”

“Kau benar-benar membuatku cemas! Ku hubungi hpmu tidak aktif. Sengaja kau matikan?”

“Mungkin rusak. Kehujanan sejak tadi.” Aku coba terseyum meski lelah rasanya.

“Apa dari tadi kau di sini?”

Aku tak menjawab.

“Apa ada masalah?” tanyanya cemas. Dia selalu begitu.

Aku menggeleng lemah. Ku buka mataku. Hari merambat gelap rupanya.

“Apa sejak tadi kau tidak berteduh? Tubuhmu basah sekali.” Ada nada marah dalam suaranya.

“Kakak…” panggilku.

“Hm?”

“Kau mengkhawatirkanku?”

“Tentu saja.” Sahutnya cepat.

“Benarkah?”

“Hm-mm. Sudah jelaskan. Adikku belum pulang dan hp tidak aktif.”

‘Adik?’ batinku mengulang.

“Untung kau masih di pantai, jika ke tempat yang tak ku tahu, aku tak tahu harus bagamana agar menemukanmu.” Katanya.

“Maaf…”

“Tidak apa-apa. Lain kali jangan begini, ya.” katanya sambil memperhatikan jalanan, menunggu taxi.

“Kak…” aku merebahkan kepalaku di bahunya.

“Hm?” sahutnya lembut.

“Punggung kakak hangat. Nyaman sekali rasanya.”

Sedikit senyum terukir di wajah lembutnya. “Puh..ada-ada saja,” gumamnya menahan tawa.

“Aku suka, Kakak…” kataku pelan.

“Eh?” ia sepertinya terkejut.

Aku memeluknya erat. “Aku sangat menyukai kakak.” bisikku lagi.

Senyap beberapa saat.

Air mataku menggenang. Aku tahu ia tak akan menerima perasaanku. Meski begitu aku ingin dia tahu, “Aku cinta kakak..”

Senyap…

“Kakak..?” kupanggil dia yang dari tadi diam.

“Maaf…” sahutnya akhirnya. Air mataku menggenang. Meski sudah tahu perasaan ini tak akan bersambut, aku tetap menangis.

“Aku sungguh mencintai kakak…” isakku.

“Maafkan aku…” katanya pelan.

Aku makin terisak. “Aku sungguh cinta…” lirihku.

“Benar-benar maaf…” sahutnya lagi.

Aku tergugu di punggungnya. Tak mampu mengatakan apa-apa lagi. Sakit. Benar-benar sakit.

“Terima kasih.. sudah mencintaiku,” katanya lagi.

Air mataku meleleh deras.

 

Tamat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: