Perasaan Tak Enak


Cerpen Orisinil dan belum dipublikasikan di media cetak.

 

PERASAAN TAK ENAK

Oleh Imah_HyunAe

 

Kutatap sosok di seberang sana yang tengah melambaikan tangannya padaku. Senyumnya mengembang tulus. Matanya berbinar penuh perasaan kasih. Namun, hatiku lagi-lagi menjerit. Jeritan yang sama dengan yang kurasa ketika dia jadian dengan Janu, sahabatku. Padahal, seharusnya aku merasa senang karena dia kini telah menjadi kekasihku. Bukankah ini yang kuinginkan?

Hfff… senang? Pantaskah?

Aku balas senyum Lena. Lantas kulajukan motorku meninggalkan sosoknya yang masih menatapku di teras rumahnya.

Rentetan peristiwa beberapa waktu lalu terungkap diingatanku. Buku kenangan di otakku tak mempedulikan perintahku yang melarangnya terbuka lebih lebar lagi.

Waktu itu…

***

Siswa-siswi di SMA Island sudah pulang. Tanpa sengaja aku melihat Janu menarik tangan Lena dengan keras. Ada satu rasa yang tak bisa kuartikan tampak di retina sahabatku itu.

Kubuntuti mereka yang melangkah ke taman samping sekolah

“Ada apa?” Tanya Lena sedikit takut.

Janu menatap Lena dengan tatapan sedih. Kilat perih ada di matanya. “Maaf…” lirih Janu sambil menjatuhkan pandangannya ke tanah.

“Maaf untuk apa?” Lena tampak bingung.

“Tolong… maafkan aku…”

“Tapi, maaf untuk apa, Nu?” Lena tenang.

“Hubungan kita.”

“Eh?” Lena manatap lekat Janu yang masih memandang tanah.

“Aku rasa…  jauh lebih baik kalau kita akhiri saja.”

“A-apa?” Lena tak percaya dengan pendengarannya barusan.  “Kamu bercanda kan, Nu?” ia menatap penuh harap.

“Maafkan aku…” lirih Janu berat.

Seketika wajah Lena berubah pucat. “Kenapa…?” lirinya. “Apa aku punya salah padamu?”

Janu menggeleng pelan.

Lena menatap sosok Janu lekat-lekat. Seolah mencari jawaban sesungguhnya yang disembunyikan laki-laki di depannya itu.

“Kau…jatuh cinta pada yang lain?” Tanya Lena lambat dan pelan.

“Eh?” kepala Janu mendongak. Kaget. “Ti-tidak. Bukan begitu. Tapi…”

“Aku mengerti…” potong Lena cepat. “Tidak apa-apa, Nu… Aku paham…” Lena berbalik. Melangkah meninggalkan Jany dengan mata basah.

“Bukan begitu, Len…” bisik Janu pelan, membuat Lena tak mendengarnya.

Aku kepal tanganku kuat-kuat. Menahan emosiku terhadap sahabatku itu yang telah tega melukai Lena, gadis yang kucintai.

Kulayangkan pandanganku pada sosok Janu yang membuang napas berkali-kali. Matanya tampak memerah. Apa… dia juga ingin menangis?

Ah, tidak ada waktu memikirkan orang seperti dia! Yang harus segera kutemani adalah Lena. Aku segera mencarinya.

Aku memenukan gadis berambut sebahu itu duduk sambil menangis di kursi taman kota tak begitu jauh dari sekolah. Kudekati dia perlahan.

“Hendra?” katanya kaget saat sadar aku sudah di depannya. Disekanya air matanya dengan segera.

“Menangislah jika itu  membuatmu merasa lebih baik,” ucapku lalu duduk di sampingnya.

Ia diam. Aku tahu dia sedang menatapku sekarang.

“Anggap aku pohon yang siap mendengar keluh-kesahmu.” kataku sambil mengalihkan pandanganku padanya.

Lena tertunduk. Air matanya jatuh lagi.

“Dia tiba-tiba memutus hubungan kami,” lirihnya di sela isakannya. “Andai dia memberi sinyal lebih dulu, aku mungkin…” kata-kata Lena tertahan. Air mata membanjiri pipinya. Kuulurkan sapu tanganku padanya.

Thanks…” ucapnya setengah berbisik.

 

Setelah mengantar Lena pulang, aku segera menuju ke rumah Janu. Pas sekali dia ada di sana.

Tanpa permisi lagi, aku masuk ke kamarnya.

“Hen? Tumben tidak ketuk pintu dulu seperti biasanya. Ada apa?”

Bugh! Kutampar wajah Janu yang kelihatan tanpa dosa. Dia seolah tak menanggapi apa yang baru kulakukan. Dia duduk dan bersandar di dinding kamar sambil menusap pipinya yang memar. Pandangannya tertuju pada jendela kamarnya yang terbuka.

“Itu imbalan bagimu karena sudah menyakiti Lena!” bentakku.

Janu diam. Tak melakukan pembelaan. Biasanya dia akan bilang padaku, ‘Sikapmu menunjukkan kalau kau juga mencintainya!’ Tapi ini….

“Kau tahu perasaanku! Kau juga tahu Lena bahagia bersamamu! Bukankah sudah pernah kubilang, kalau kau menyakitinya, aku akan merebutnya darimu?!!”

Janu tersenyum tipis. Sangat tipis. “Karena itu… jaga dia.” Ucapnya pelan.

“Apa?” aku menatapnya bingung.

“Berjanjilah padaku kalau kau tidak akan membuat Lena terluka…” ia menatapku dengan wajah memohon.

“Apa yang kau katakana?!”

“Aku percaya padamu, Hen…” Ia berkata penuh keyakinan. Tak ada tanda-tanda dia sedang bercanda. Ada apa dengannya?

***

Beberapa hari setelah Lena putus dengan Janu…

Lena mengalami kecelakaan dan mengakibatkan dirinya kehilangan ingatannya. Janu bukannya membantu Lena mengingat semuanya lagi tapi justru bertingkah tak peduli.

“Apa-apaan kau ini??” bentakku padanya. Dia masih dengan wajah tak peduli yang memuakkan itu. “Lena kehilangan ingatannya! Apa kau tak merasa bersalah sama sekali??”  Aku mencengkram kerah bajunya. “Apa kau benar-benar tak peduli lagi dengannya??”

Janu membuang muka. Tapi, dengan jelas kulihat nanar di matanya. Apa yang dia sembunyikan?

“Aku tak bisa menjaganya lagi. Bukahkah dia sudah kuserahkan padamu?”

Aku tersenyum sinis. “Serahkan? Kau pikir dia barang?!!”

“Pokoknya aku tidak bisa.” Janu mencoba melepas cengkramanku.

“APA KAU BILANG?” aku melotot padanya.

“Kau punya foto bersamanya kan? Mengakulah kalau kau kekasihnya. Bawa foto itu agar dia percaya. Aku lebih rela jika dia bersamamu. Setidaknya aku sudah kenal betul siapa dirimu…”

“KAU?!!“ aku mengencangkan cengramanku.

“Hanya itu yang bias kulakukan untuknya. Maafkan aku…” Dia melepas paksa cengkramanku.

Aku berdecak kesal.

“Lagipula kau mencintainya kan? Jangan sia-siakan kesempatan ini. Mumpung aku merestui, hehe…”

Bugh!! Habis sudah sabarku. Kutampar dia sekuat tenaga. Pukulan ketigaku terhenti ketika kulihat dia ingin menangis. Kenapa??

 

[Saat itu aku masih tidak mengerti. Meski begitu aku tanpa berpikir dua kali mengiyakan keinginannya. Dengan sedikit bantuan Janu, Lena percaya aku adalah kekasihnya. Aneh memang. Hingga… di suatu malam, saat aku mau meminjam buku persiapan ujian di tempat Janu, aku mendengar mamanya bicara sambil terisak.]

 

“Kenapa harus dia… Dia yang sangat cinta menari, kenapa??” isak mamanya Janu. “Kanker tulang itu, kenapa memilih tubuh anak kita? Padahal dia belum mewujudkan cita-citanya. Satupun!”

Aku membeku. Terkejut. Benarkah yang ku dengar?

“Kau melamun?” tiba-tiba Janu menegurku dari belakang.

Kutatap dia. Kutanyakan tentang perkataan mamanya barusan.

“O~, sekarang kau sudah bisa menguping ya?” dia merangkul bahuku penuh rasa persahabatan. “Gawat!” dia memberikan cengiran khasnya padaku.

“Jangan sembunyikan apapun dariku!” kataku tajam.

Mata Janu berubah sayu. Jauh berbeda dari sebelumnya.

“Kau tahu kanker tulang tidak?” Katanya sambil menyeretku duduk di sofa di ruang tengah.

Aku menggeleng.

Wajah Janu mengguratkan luka yang sangat dalam. Ia mengehla napas berat. “Bulan depan, usai ujian… aku akan di kemoterapi…” lirihnya. Ia mencoba tersenyum tegar padaku. Tapi di mataku, justru senyum perih yang terbentuk.

“Tak lama lagi… aku… tak akan bisa berdiri dan berjalan dengan kedua kakiku…” ditatapnya kakinya. Ngilu menghantam hatiku. Janu yang senang sekali menari hip hop dan bercita-cita menjadi penari dan pelatih tari professional itu membuatku tak mampu berkata-kata.

“Jadi… karena ini…” kataku pelan.

“Eh?” dia mendongak.

“Karena ini kau putus dengan Lena?”

Dia diam tak mejawab. Tapi sorot matanya sudah menjawab dengan jujur.

Aku menarik napas. Merasa bersalah sudah berburuk sangka padanya. “Maafkan aku…” pintaku.

“Kau tak perlu minta maaf,” sahutnya tenang.

***

 

Aku menghela napas. Pasti. Ya, pasti, di hati Lena masih ada cinta untuk Janu. Aku yakin itu karena dua hari lalu kulihat gurat kecemasan pada wajahnya ketika Janu jatuh saat berjalan dan tak mampu bangkit lagi.

Waktu itu…

 

“Tidak apa-apa?” Tanya Lena. Janu mengangguk. Mencoba berdiri tapi gagal. Ia meringis kesakitan. Wajahnya memucat.

Aku segera mendekat dan memapahnya. Ia meringis. Aku berhenti dan menunduk. Menyuruhnya ke punggungku. Lena di samping Janu, mengelap keringat dingin laki-laki itu.

Aku membawanya ke rumah sakit. Lena ikut.

Di sana, guratan cemas Lena makin menjadi. Hatiku terguris. Tapi di sisi lain, aku juga merasa lega.

***

Sejak hari itu Lena lebih senang kalau ku ajak ke rumah sakit menjenguk Janu dari pada jalan-jalan. Kurasa, lebih baik aku mengatakan semua kebenarannya. Jika nanti dia ingat dan… Janu tiada (semoga tidak), Lena akan sangat membenciku. Lebih menyakitkan lagi kalau sampai dia tak tahu-menahu lagi padaku.

***

“Benar-benar maaf, Len… tapi itulah yang sebenarnya. Aku bukan kekasihmu baik sekarang maupun dulu. Maaf sudah berbohong padamu.” aku menunduk dalam. Tak berani melihat ekspresi Lena.

Kudengar Lena menghela napas berat. Dadaku sesak. Cemas dan ketakutan melandaku.

Ketika langkah pelannya makin menjauh, aku sadar dia tak memaafkanku.

***

Aku memutuskan menjenguk Janu. Kukatakan padanya bahwa aku sudah jujur tentang segala hal pada Lena. Janu berusaha memukul pundakku.

“Payah!” desisnya.

Aku tersenyum tipis. Karena sudah terlalu lama berkunjung, aku berpamitan.

Deg!

Aku baru keluar dan kakiku terkunci seketika saat melihat sosok Lena berjalan mendekat ke kamar rawat Janu.

Dia meraih gagang pintu tanpa melirik sedikitpun pada aku yang membeku.

Clek!

Gagang pintu diputarnya, bersamaan dengan itu kudengar….

“Terima kasih banyak, Hen…” katanya pelan.

“Eh?” Aku memandangnya.

Perlahan kepalanya bergerak, menoleh ke arahku. Seulas senyum lembutnya terukir. “Terima kasih karena sudah jujur padaku.” Katanya lagi.

“Eh?! Y-Ya.” Sahutku gagap. Kupikir dia tak akan tahu-menahu lagi padaku.

Sekali lagi Lena memberikan senyum lembutnya. Kemudian dia masuk ke dalam.

Di depan pintu aku melihat dia mendekat ke ranjang Janu.

Janu mendongak dan matanya membulat. Tampak sekali dia terkejut.

Bugh!! Bugh!! Lena memukul Janu dengan tasnya beberapa kali. Membuat laki-laki itu meringis kesakitan.

“Keterlaluan!!” desis Lena.

“Maaf…”

“Tsk! Kau menyebalkan!!” ujer Lena cemberut.

“Maaf…”

“Boleh… aku mencintaimu lagi, Nu?” tanya Lena pelan.

“EH?” jelas Janu terkejut.

“Aku memang belum ingat semuanya. Tapi aku janji aku akan berusaha mengingat semuanya. Aku… ingin di sisimu lagi.”

“Tapi aku… sudah tak seperti dulu lagi.” Janu menatap perih kedua kakinya.

“Aku tahu, karena itu biarkan aku di sisimu.”

Janu kembali menatap Lena. Senyum gadis itu berhasil membuat Janu mengangguk.

[Selamat, Nu, Len… ^_^

Ah… Rasanya, keepingan-kepingan perasaan tak enak yang selama ini menggangguku perlahan mulai terangkat…]

Tamat

4 Komentar

  1. sangat menyedihkan aku jadi terharu

  2. sangat sedih ceritanya

  3. mencoba sukses sekali

  4. Terima kasih komentarx =)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: