Aku Sungguh Mencintaimu


 

Aku Sungguh Mencintaimu

Oleh: Imah Hyun Ae

 

Udara sore yang sejuk. Dahan-dahan yang bergerak di bawa angin. Gemerisik dedaunan menambah suasana nyaman di taman itu.

Aku mengecup kedua jariku lalu mengarahkan ke arah gadis di sudut lapangan sana. Gadis berambut panjang yang duduk di kursi roda itu tersenyum malu.

Love you..” bisikku pelan.

Gadis itu tertawa kecil. Rona di pipinya makin nyata. “Love you too…”. Aku tahu gerak bibirnya mengatakan hal itu. Tak lama kemudian dia menggerakkan kepalanya. Memintaku melanjutkan permainan.

Aku tersenyum padanya lalu kembali ke posisiku. Gadis bergaun hijau muda itu bernama Lina, kekasihku.

***

Aku pertama kali mengenalnya saat dia duduk santai di rumput samping sekolah. Taman yang paling banyak dikuasi oleh siswa-siswi yang hobi membaca.

Aku hari itu iseng-iseng pergi ke sana. Dan saat melihatnya yang duduk dengan nyaman sembari memandang angkasa, aku merasa detik di setikarku berhenti seketika.

Lembut angin menggerakkan beberapa helai rambutnya yang tergerai indah. Sesuatu menyapa hatiku dengan pelan. Sebuah rasa yang kutahu bernama cinta.

Tanpa sadar, aku mendekat. Kulihat sebuah kursi roda di sampingnya. Miliknya kah?

Deg!

Jantungku berdetak cepat saat dia menoleh.

“Hai…” sapaku canggung.

“Hai…” sahutnya lembut.

“Aku Egi. Anak kelas XII IPA-3.” Kataku cepat sembari mengulurkan tangan. Takut melewati kesempatan emas ini.

Gadis di depanku ini tersenyum. Seyuman yang kurasa terukir indah sekali. Menciptakan degup aneh di dadaku.

“Lina. Kelas bahasa.” katanya lalu menyambut uluran tanganku.

Bel masuk berbunyi. Dia lekas menjangkau kursi roda di sampingnya dan berusaha duduk di atasnya. Aku mendekat dan membantunya untuk duduk.

Thanks…” katanya.

“Jangan sungkan,” sahutku canggung. Kegugupan lagi-lagi melandaku.

“Duluan, ya?” pamitnya.

“Ah?” Aku terkejut. “Mau ku antar?” tawarku tanpa sadar.

Senyum manisnya kembali merekah. “Tidak usah. Kelasku dekat. Sedang kelasmu di sebelah sana kan?”

“Hehehe…iya juga ya. Sampai jumpa.”

Lina mengangguk lalu mendorong kursi rodanya. Aku menghela napas. Hari itu, sebuah doa kuucapkan: Aku ingin waktu istirahat lebih lama lagi, Tuhan…

***

Hari lain. Hari di mana seorang gadis di kelasku memberikan coklat yang diakuinya buatannya sendiri padaku. Padahal aku melihatnya membeli coklat itu di toko langganan ibuku.

“Aku suka kamu, Gi. Mau kan pacaran denganku?” katanya percaya diri.

“Maaf.”

“Hah?” ia seolah tak yakin dengan yang dia dengar.

“Aku tidak bisa.”

Gadis bernama Ria itu tampak terkejut.

“Kau pasti tahu aku milik siapa, kan?”

Ia mencari jawaban di mataku. Aku tersenyum sembari melangkah melewatinya dan berhenti di depan Lina. Kerumunan makin heboh.

Kupegang pegangan kursi roda Lina dan membawanya ke taman samping sekolah.

Lina memandangku dengan pandangan menyelidik.

“Kenapa? Apa aku terlihat tampan?” godaku.

“Kau bisa membuat mereka salah paham tentang kita. Setelah bilang ‘aku milik siapa’ langsung ke arahku dan membawaku pergi,” ujernya serius.

“Itu salah paham yang ingin kujadikan kenyataan.” Kutatap Lina dengan lembut.

“Eh? Maksudmu?” ia tampak gugup.

“Menjadi kekasihmu dan mereka tahu bahwa aku milikmu adalah kenyataan yang selalu kuharapkan, Lin.”

Lina membisu sesaat. Di tatapnya kedua mataku. “Jangan bercanda!” katanya lalu memalingkan wajahnya.

Kupalingkan lagi wajahnya hingga menghadapku. “Akan kukatakan ribuan kali sampai kau percaya bahwa aku serius, Lin. Aku mencintaimu,” tegasku.

Lina memandangku cukup lama. “Terima kasih…” bisiknya.

Kugenggam erat tangannya. Hari itu, hari terbahagia dalam hidupku.

***

“Melamunkan apa?” tanyanya ketika dari tadi, usai permainan, dia mengulurkan handuk kecil dan tak jua kusambut.

“Ah?” Aku terperanjat. Lekas mengambil handuk dan menyeka keringatku. “Kalau kau dengar lagu ini maka kau akan tahu apa yang kulamunkan.” Aku mengedipkan mata, menggodanya lagi.

Ia tersenyum cerah dengan rona merah di pipinya. Ditatapnya aku dengan antusias.

Gomapta nae gyeote meamulre juseo…” Aku mulai mendendangkan lagu Korea kesukaanku: ‘Gomapta’. “Deolrinda neowa hamke ganeun i giri… Saranghae ni apeseo haneun eosekanmal… Haengbokhe jal sarajouyahae…”

“Apa… artinya?” tanyanya malu.

Aku berlutut di depannya dengan kedua tangan memegang lengan kursi rodanya. “Artinya, Terima kasih kamu berada di sisiku… Jantungku berdebar-debar saat bersamamu… Dengan gemetar kuucapkan di hadapanmu, ‘Aku mencintaimu’… Kamu harus bahagia, harus hidup baik…

Lina menyunggingkan senyum manisnya.

“Terima kasih sudah berada di sisiku, Lin. Meski sulit, kumohon tetaplah di sisiku hingga akhir nanti…” pintaku padanya.

Perlahan Lina mengangguk. Air mata bahagia menggenang di matanya.

***

Aku sedang mengecek kue ulang tahun yang akan kujadikan kejutan untuk Lina ketika HP-ku berdering.

Lina. Nama itu tertera di layar. Dengan gembira aku mengangkatnya.

“Hallo, cintaku…” sapaku langsung.

“Ini…” sebuah suara yang tak kukenal. Kulihat sekali lagi layar HP-ku. Nama Lina memang yang tertera di sana, tapi kenapa suaranya berbeda hari ini ya?

“Ini Egi kan?” ulang suara asing itu terdengar panik.

“Yeah… Ini siapa ya?”

“Ini aku, Raras. Tetangganya Lina, ingat?”

O, dia rupanya. “Ada apa ya?”

“Tolong dengar dengan tenang…”

***

Aku berusaha mengumpulkan tenagaku. Mengerakahkan kakiku untuk segera menuju rumah sakit. Kata-kata Raras terngiang lagi.

Tolong dengar dengan tenang. Lina kecelakaan. Dia tak sadarkan diri sekarang. Cepatlah ke rumah sakit Jaya.

Terlihat Raras sedang duduk di depan ruang gawat darurat. Ruangan yang membuat hatiku serasa mengecil seketika. Kulihat gurat cemas di wajah orang tua Lina.

“Seseorang menabraknya dari belakang. Padahal dia sudah berjalan di tepi, tetap saja ditabrak. Aku melihat peristiwa itu tanpa sempat mencegahnya…” isak Raras penuh sesal.

Orang itu harus bertanggung jawab!

***

Lina sudah sadarkan diri sejeak dua minggu yang lalu, dan baru hari ini di perbolehkan pulang. Tapi kurasa, jika aku jadi dia, mungkin aku lebih memilih tidak terbangun sama sekali setelah koma.

Ayah dan ibunya sudah menyiapkan pakaiannya dan menunggunya di luar.

Pelaku yang melakukan tabrak lari sudah di tangkap dan di penjara sekarang. Aku tidak menyangka, dia bisa sejahat itu.

Perlahan aku mendekat ke arah Lina. Ia sama sekali tak menoleh. Rasanya sakit sekali melihat dia yang rapuh seperti ini.

Aku menepuk pundaknya. Ia menoleh. Diambilnya sesuatu dari saku jaketnya. Sebuah buku catatan yang hampir dua minggu ini digunakannya untuk berkomunikasi.

Disobeknya sebuah halaman dan diserahkannya padaku. Ia lantas memutar kusri rodanya dan mendorongnya menjauh dariku.

“Kita putus saja. Terima kasih untuk segalanya, Gi. Bertemu denganmu adalah hal terbaik dalam hidupku,” tulisnya.

“Apa-apaan ini?!!” teriakku.

Lina tak mendengar. Jelas saja. Kecelakaan itu merenggut pendengaran dan suaranya.

Kenapa harus dia, Tuhan?! Kenapa bukan pelaku itu saja? Tidak cukupkah hanya dengan dirinya yang tidak bisa berdiri dengan kedua kakinya?! Kenapa bukan Ria saja, si pelaku jahat itu, yang kehilangan pendengaran dan suaranya?!!

Kutarik pegangan kursi roda Lina dengan kuat. Kuambil buku catatan dan pen dari sakunya. Dengan terburu-buru aku menulis, “Tidak mau! Bukankah kau sudah berjanji hingga akhir akan tetap di sisiku?!

Ia memandangku nanar. Seolah berkata aku-tidak-pantas-untukmu- dengan matanya itu.

Tapi aku mencintaimu, Lin!” tulisku cepat.

Kau hanya kasihan!” balasnya.

Ia hendak berlalu ketika lagi-lagi aku menahannya.

“Itu pikiran bodoh!” bentakku.

Ia mungkin melihat kilatan marah di mataku, membuatnya menulis , “Aku hanya akan menyulitkanmu.

Aku menggeleng dan berlutut di depannya. “Sesulit apapun asal kau di sisiku semua akan baik-baik saja buatku,” ujerku melemah. Aku tahu dia tak bisa mendengar tapi aku tak bisa menghentikan diriku sendiri. “Apa aku bisa hidup tanpamu? Jawabannya sudah jelas, ‘Tidak’. Dalam mimpi pun aku selalu bersamamu. Aku janji aku akan mengembalikan senyummu. Akan kubuat kau tahu, bahwa kau bukan beban untukku. Kau hidupku, Lin. Kau yang ketika di sampingku, bersandar padaku, membuatku semakin kuat. Hanya kau, tak perlu yang lain, tak peduli yang lain. Bagiku, seseorang yang pantas untuk kucintai adalah kau, Lin. Aku janji akan berada di sisimu seumur hidupku.”

Air mata yang sejak tadi menggantung di pelupuk mata Lina perlahan jatuh. Apa dia bisa merasakan kesungguhanku?

Segera aku memeluknya.

“Aku mencintaimu. Sungguh mencintaimu, Lin. Jadi tetaplah ada di kehidupanku,” bisikku.

Lina masih menangis. Namun, seolah mendengar bisikanku, kurasakan ia mengangguk pelan.

Aku pasti memenuhi janjiku, Lin, batinku. Pasti!

~Tamat~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: