FF Sadness


Ini sudah saya post di http://hyunae19.blogspot.com

=======

 

Hahay… akhirnya author comeback lagi niy. Pasti udah pada kangenkan sama cerita author  yang satu ini?? Hehe, ^///^

Ya udah ga usah pedulikan ocehan saya yang rada narsis itu. Kali ini saya nulis FF dengan sudut pandang utamanya adalah Yunho oppa. *Yayy~!!!*

Cerita ini tercipta sudah lama di otak saya, Cuma baru bisa ngetiknya sekarang. Kali ini sad end lagi. Mian kalau ga suka.

Sekali lagi ini cuma imajinasi saya *yang mungkin terlalu berlebihan* hehehe.

Oke. Lets read! AND LEAVE COMMENT PLEASE. Tolong JANGAN jadi SILENCE READER. Ini demi memompa semangat author juga, hehe…

————————————————————–

Title: Sadness

Cast: Yoochun, Hyun Ae, and other member DBSK

Disclaimer: murni imajinasi saya

SADNESS

Part 1

Aku jung Yunho. Leader dari grup DBSK. Ah, kurasa thal ini tidak perlu ku tulis bukan?

Aku sengaja menulis kisah ini di sini. Di website resmi kami. Kuharap para cassie yang membacanya memahami perasaan kami. Terutama perasaannya.

Kalian boleh menyebarkan cerita ini ke grup kalian. Dan bagi yang bisa menerjemahkannya ke dalam bahasa inggris, ku mohon bantuan kalian juga. Sebarkan kisah ini agar hal yang menyakitinya- juga menyakiti kami- tidak terualang lagi. Dan kuharap juga tidak terjadi dengan idola kalian yang lain.

Sebelumnya maaf kalau cara menulisku tidak baik. Tidak mengalir seperti halnya kalian menulis FF untuk kami. Aku hanya ingin menyampaikan kesedihannya pada kalian.

Rain in my heart… mou yamanai…

Aku mendengar senandung serak di belakangku. Bukan, ini bukan suara Kim Junsu. Aku kenal betul suara ini milik siapa. Ini.. suara milik crying baby kami, Park Yoochun.

Aku menoleh ke belakang. Ia tampak bersandar di tiang jendela. Menatap pilu pada butir-butir hujan di luar sana. Ia masih bersenannndung ketika kudapati bulir air matanya jatuh. Di genggaman tangannya tergenggam kotak cantik. Aku tahu isi di dalamnya. Ia sempat memperlihatkannya pada kami. Benar. Sepasang cincin pernikahan. Aku tahu, sekali lagi dia menangisi gadis itu.

Sudah tiga bulan dia begitu. Dan selama itu pula yang kutemukan di wajahnya hanyalah lekuk sendu. Sesekali kudapati ia menangis diam-diam di kamarnya. Ah, siapapun pasoi akan sama sedihnya dengan dia jika mengalami hal yang sama.

Aku ingat, tiga bulan lalu, pada malam hari, di hari yang seharusnya jadi hari pernikahannya.

-flashback-

Denting piano terdengar dari ruang tengah. Aku bangun perlahan dan mengintip. Kudapati Yoochun tengah duduk di depan piano, memainkannya dengan wajah beruari air mata.

Gomapta nae nomumollojoso… molinda…” ia bernyanyi tertahan. Aku tahu, lagu ini seharusnya dinyanyikan dengan bahagia di pesta pernikahan.

Air mata crying baby kami deras berjatuhan.

Dengan perlahan aku membuka pintu dan mendekat ke arahnya.

Isakannya terdengar jelas di sela lagunya.

“Yoochun-ah..” panggilku.

Ia menatapku dengan matanya yang merah. Ia berhenti memainkan tuts piano itu. “Bagaimana menurutmu, hyung? Lagu ini bagus kan?” senyum pedihnya menusuk hatiku. Tajam.

Aku bergeming. Pilu di matanya makin menyayat-nyayat seluruh persendianku.

“Aku berencana menyanyikan lagu ini di perbnikahan kami, hyung.” Ia kembali menjatuhkan tatapannya ke piano. Satu titik air jatuh di atas tutsnya.

“Kau tahu, hyung? Lagu ini…” lirihnya pelan, “adalah ungkapan terima kasihku padanya.”

Aku tak bisa mengatakan apapun melihat wajah pilunya itu.

“Tapi… aku tak sempat menyampaikannya padanya.” Butiran yang jatuh ke tuts piano tersebut semakin banyak.

Aku menggigit bibir bawahku. Menahan kabut yang menggenang di mataku agar tidak jatuh.

Wae…??” bisiknya.

Apa yang harus ku katakabn?

Wae hyung…?” isakannya kembali terdengar. “Wae…” suaranya tertelan kesedihannya yang dalam.

Gumanhae, Yoochun hyung…” kudengar suara Changmin. Sejak kapan dia di sini?

Junsu juga. Ia mendekat dan menepuk pundak Yoochun. Air mata juga menggenang di pelupuk matanya.

“Ini mimpi kan??” ia meminta pembenaran dari kami.

Jae Joong menyeka air matanya yang jatuh.

“Katakan padaku yang terjadi cuma mimpi. Mimpi burukku…” isak Yoochun menjadi.

“Yoochun-ah..” jae joong mencoba bersuatra tapi gagal. Ia yang mudah menangis tak bisa menahan isakannya.

“Katakan itu mimpi, hyung.” Suara Yoochun makin memilukan hati siapapun yang mendengarnya.

Aku menepuk pundaknya. Berharap ia mampu menguatkan hatinya.

Kami menuntunnya ke sofa. Tangis masih menyelimuti wajahnya hingga akhirnya dia tertidur.

Kajjima, Hyun Ae-ah…” igaunya. Air mata meleleh lagi dari sudut matanya.

-end flashback-

Seperti kataku, kebahagian menjadi lima kali lipat dan kesedihan di bagi jadi lima. Sedihnya, sedih kami juga.

Kalian mungkin tak menyangka jika ia akan menagis sehebat itu karena seorang gadis yang amat dicintainya pergi. Pergi dan tak akan pernah kembali.

Siapa yang tidak sesakit itu?!! Delapan tahun! Apa kalian tahu arti delapan tahunnya bersama gadis itu? HIDUPNYA!! Tapi setega itu seseorang menghancurkan segalanya!

Yoochun mati-matian selama delapan tahun menyembunyikan sosok gadis itu dari kalian. Ia tak ingin kalian melukainya. Sosok yang bahkan baru kami ketahui satu tahun terakhir. Sosok yang seketika membuat kami sadar betapa setianya Park Yoochun kami.

-flashback-

Aku sedang membuat lirik rap pada lagu terbaru kami, ketika Changmin mengguncang-guncang tubuhku dengan semangat.

Wae?” Bukannya menjawab, si maknae ini justru menutup pintu kamar dan memasang headset ketelingaku.

Aku menatapnya bingung.

“Dengar, hyung!” perintahnya. Ia memencet tombol dan…

Oppa..” suara seorang gadis. Aku memandang Changmin penuh selidik. “Sedang apa? Aku baru saja selesai mengejakan tugas kuliahku. Capeknya… Oppa sendiri? Baik-baik saja kan?

Nugu?” tanyaku usai mendengar kalimat itu.

Changmin mengakat bahunya. “Ini milik Yoochun hyung. Coba lihat dan dengar yang lain. Semua isisnya suara gadis ini!” wajah Changmin menunjukan dia sudah menemukan sebuah rahasia besar.

Jeongmal?” aku segera mengeceknya. Omo!! Suara itu lagi!

Hey oppa… suka dengan syal yang kuberi? Bagus kan? Tapi… tanganku sampai penuh luka membuatnya. A~, jangan panik oppa! Aku bohong padamu, hehe… Aku kan sudah sering merajut, jadi mana mungkin penuh luka. O, ya, bagaimana hari ini? Menyenangkan? Trainee tak membuat oppa lupa menjaga kesehatan kan? Jangan lupa oppa, di sini ada aku yang mencemaskanmu. Saranghae, oppa..

Kupandang Changmin. “Menurutmu siapa dia?”

“Aku curiga dia…” Changim menggantung kalimatnya. Ia mengambil sebelah headset dan memasang di telinganya. Ia memainkan rekaman suara yang ada, lalu menggantinya. Kepalanya menggeleng seolah berkata, ”Bukan ini”.

“Coba hyung dengarkan yang ini,” ujernya gembira sekaligus semangat.

Aku mengarkan dengan seksama. “Oppa… tenanglah. Aku percaya pada oppa. Jika image oppa harus seperti itu tidak apa-apa. Asal jangan kenyartaannnya saja. Asal aku tetap di posisi ketiga di hati oppa, setelah Tuhan dan orang tua oppa. Nae saranghae oppa….

Mulutku membulat. Terkejut.

Changmin mencari lagi. “Bukan.” Ia mencari lagi. “Masih bukan,” katanya.

“Ah, ini dia.” Ia tersenyum lebar padaku. Aku tak sabar mendengarnya.

Oppa… aku sudah lihat banjun drama kalian. Whaa~ oppa kau keren sekali. Andai aku jadi tokoh utama wanitanya… Oppa, boleh aku bilang kalau aku cemburu? Mianhae…oppa. Perasaan itu… benar-benar tak bisa kukendalikan… Ottokhe?

Kepala Changmin miring ke kiri. Ia seolah bertanya, apa-pendapatmu-hyung.

“Jadi… gadis ini…”

Changmin mengangguk c epat sebelum aku menyelesaikan kalimatku.

“Kurasa dia kekasih Yoochun hyung. Aku yakin itu.” Ucapnya. Lagi-lagi penuh semangat.

Aku dan Changmin saling tatap. Takjub dengan temuan kami.

Kami keluar kamar, bermaksud mengabarkan berita penting ini pada Junsu dan Jae Joong yang sedang berbelanja. Langkah kami terhenti ketika si tokoh utama tampak sednag mencari sesuatu dengan cemas.

“Mencari apa?” tanyaku.

“Apa kau melihat hpku hyung? Terakhir kali aku duudk di sini. Kupikir tertinggal di sini.”

Aku melirik Changmin.

Yoochun menatap Changmin. “Min?”

Changmin tersenyum lebar. “Ini.” Ia menyerakannya. “Tapi.. mian hyung.. aku dan Yunho hyung tadi membuka isinya.”

Wajah Yoochun berubah.

Yoochun meraih HPnya. “Kalian mendengar semuanya?” suaranya melemah.

“Hampir…” ujer Changmin.

Yoochun terduduk di sofa. Syok mungkin.

“Eh? Ada apa?” Jae Joong dan junsu baru datang terkejut melihat kami. Mereka mendekat.

“Jadi… masih mau merahasiakannya dari kami?” ujerku santai pada Yoochun.

Yoochun tersenyum malu. Ia menggeleng. “Rasanya sudah tidak bisa lagi. Mian, karena merahasiakannya selama ini.”
“Soal apa?” Tanya junsu antusias.

“Jadi, ceritakan pada kami sekarang, hyung. Tetang cintamu itu.” Pinta changmin dengan mata puppy eyes-nya.

Yoochun menghela napas. Ia diam sesaat sambil menatap kami bergantian. “Dia.. Hyun Ae,” mulainya sambil menatap HPnya. “Lee Hyun Ae.” Ia tersenyum. Lebih lembut dari biasanya. Tampak dari binar matanya rasa sayang yang amat dalam untuk gadis itu. “Dia kekasihku.” Matanya menerawang.

Kami mengangguk.

“Aku menyimpan semua pesan suaranya agar bisa terus kudengarkan kalau aku tak biss menghubunginya ketika aku merindukannya. Aku menyimpannya di memori sticknya agar bisa kulepas saat aku selesai mendengarkannya. Jika ada yang menyentuh hpku, tetap aman. Tapi.. tadi kau malah meninggalkannya. Untung kalian yang menemukannya. Aku sudah cemas kalau-kalau terjatuh di jalan dan di temukan fans.”

Kami paham. Betapa berbahayanya jika hal tersebut sampai keluar.

“Karena tak bisa sering menelponnya, jadi, untuk mengobati rinduku aku selalu mendengarkan suaranya ini.”

Arraseo..” ujer Junsu smabil menaggguk-anggukan kepalanya. Wajahnya sumringah. Sepertinya senang dengan kisah Yoochun ini.

“Tunggu, selama ini kau sering membaca majalah sambil memasang headset hp ini di telingamu. Jangan-jangan kau… mendengarkan suaranya ya?”  tanya Jae Joong semangat.

Yoochun tertawa kecil sambil mengangguk. “Nde.” Ucapnya malu. Wajahnya memerah.

“Sudah berapa lama kau dengannya, Hyung?” Tanya Changmin menyelidik.

“Tujuh tahun…”

“Mwo???” kami terkejut bersamaan.

“Jadi…” aku mencoba menyimpulkan.

“Sebelum trainee aku sudah pacaran dengannya.” Ia menerawang dan… Tersenyum! Lebih manis dari yang pernah kami lihat. “kami backstreet dari teman-teman di sekolah juga orang tuanya. Dan ternyata harus berlanjut hingga kini.”

“Whoaa~. Kau berencana merahasiakannya sampai kapan?” Tanya Jae Joong sambil memajukan wajahnya ke depan Yoochun.

Annio.. aku tidak bermaksud merahasiakannya dari kalian. Hanya takut kalau terlalu banyak yang tahu, aku tidak bisa melindunginya.”

“Jadi aku tidak percaya pada kami?” Tanyaku.

A..anni.” Yoochun tampak gugup. “AKu tak bermaksud begitu, hyung. Aku sempat mau mengatakan pada kalian, bahkan berencana memperkenalkannya pada kalian, tapi…”

“Tapi apa?” Changmin tak sabar.

“Umm.. tapi… manajer hyung melarangku.”

“Eh??” aku terkejut.

“Manajer??” Tanya junsu. “Jadi dia tahu??”

Yoochun mengangguk.

“Sejak kapan?” tanyaku lambat.

“Dua tahun lalu.”

Kami mengangguk.

“Arraseo..” ujerku. Kalau sudah manajer yang bilang, apa boleh buat. Mungkin demi kebaikan kami semua.

“Kau… serius dengannya?” tanya Jae Joong.

Yoochun mengangguk. “Aku berniat membongkar semuanya pada kalian setelah aku melamarnya. Juga meminta maaf karena tak menceritakan tentangnya dari dulu. Tapi… tak disangka kalian mengetahuinya lebih cepat.”

“Ceritakan lebih banyak lagi tentang dia.” Pintaku. Semua mengangguk setuju.

———————————————————————-

Untuk Part 2 lihat di sini:

Comentnya boleh di sini kok…

Di tunggu XDXD

Title: Sadness

Cast: Yoochun, Hyun Ae, and other member DBSK

Disclaimer: murni imajinasi saya

SADNESS

Part 2

Yoochun menatap kami bergantian dan certa tentang hubungannya dengan Hyun Ae pun di mulai.

-Yoochun POV-

Dia memang bukan cinta pertamaku. Tapi aku bisa pastikan, dialah cinta terakhirku. Bersamanya, aku merasa nyaman. Bukankah.. rasa nyaman itu lebih lama bertahan?

Benar-benar tak bisa kusangka, seorang gadis biasa saja bisa ,menggenggam hatiku sedalam ini. Namanya Lee Hyun Ae. Tiba-tiba saja saat melihatnya tertawa gembira dadaku berdebar. Ia yang selalu menolong orang lain dengan tulus. Selalu tersenyum lembut  pada siapa saja. Menundukan wajahnya ketika malu. Ah… aku tak tahu sejak kapan aku suka segala yang ada di dirinya.

Aku sempat berpikir sebaiknya kusimpan saja rasa ini. Ia dan yang lain tak perlu tahu. Tapi, ketika ada namja lain mendekatinya, aku beriubah pikiran. Aku memutuskan perasaanku padanya.

Hari itu dengan sengaja aku mengikutinya. Dan di sanalah, di depan sebuah halte dekat rumahnya, perasaanku kusampainan.

Aku menunduk sambil menggesekkan sepatuku di aspal.

Lirih kudengar sebuah suara yang kunanti,  “Nado…

Aku mendongak. “Eh?”

Nado saranghae…” katanya pelan. Wajahnya tampak bersemu merah.

Jeongmal?”

Dia mengangguk sambil tersenyum malu.

“Yayyy~~~.” aku berteriak gembira. “Hyun Ae yeoja chingu-ku sekarang,” aku berputar-putar bahagia. Kutemukan senyum manisnya.

Aku teringat sesuatu. Aku yang popular dan menyatakan cinta padanya lebih dulu, kurasa wajar kalau dia menjawab begitu. Aku baru mau bilang harus backstreet dan kalau ada yang tahu hubungan ini berakhir, meski aku yakin tak akan kulakukan, ketika dia bersuara…

“Tapi kita backstreet ya? Orang tuaku… tidak mengijinkan aku pacaran. Kalau ketahuan teman-teman atau siapapun,” ia menatapku, “Kita putus.”

“Eh?”

Hyun Ae menunduk.

Itu yang kumau, tapi, kenapa rasanya sedih mendengar dia yang memintanya ya?

A…Arasseo,” ujerku terbata.

Hyun Ae mendongak. Matanya mencari kesungguhanku. Ketika ia tersenyum, aku tahu dia telah mendapatkannya.

Aku mengantarnya, tapi akan berpisah di jarak yang cukup jauh dari rumahnya. Kami tak boleh ketahuan.

Kami melangkah dalam diam. Meski diam, tangan kami saling terpaut erat. Senyum merekah di sudut bibir kami. Ini disebut kebahagian kecil dari cinta kan?

Aku tahu, satu hal telah menyatukan kami. Hati yang dipenuhi cinta.

Sejak hari itu kami harus menjaga jarak agar tak ada yang tahu kami berpacaran. Aku mengantarnya pulang dengan jarak beberapa meter di belakangnya. Dia akan berhenti dan menatapku sambil tersenyum. Ia melambai kemudian. Dan kami pun berpisah.

Saat jalan-jalan juga. Tak terlihat sekali kami adalah kekasih. Aku kadang gelisah, tapi melihatnya yang hanya menatapku, hatiku kembali tenang. Diam-diam sering aku memberikan ciuman jarak jauh dengannya. Dia akan membalas dengan cara yang sama diam-diam. Hanya di tempat rahasia kami, sebuah rumah kecil di dekat pantai . Di sana aku bisa duduk dekat dengannya. Menatapnya sepuasku. Menyanyikan lagu yang menyengkan untuknya. Membantunya mengerjakan PRnya. Mengelus kepalanya dengan lembut. Juga merebahkan kepalanya di pundakku sambil menggenggam tangannya lama. Aku… benar-benar jatuh cinta padanya.

Ketika aku memutuskan ikut audisi SM Entertainment, aku menemuinya diam-diam di tempat rahasia kami.

Jeongmal?” tanyanya saat kusampaikan keinginanku ikut audisi. Ia tampak gembira. “Oppa pasti lolos.” ujernya riang.

Gomaweo… Tapi… dengan begitu.. kita akan semakin sulit bertemu.”

Ia menggeleng. “Tidak apa-apa. Jika itu impian oppa, maka impian oppa menjadi impianku juga.”

“Bagaimana kalau kau lelah denganku lalu memutuskan untuk berpaling dariku?”
Oppa cemas?”

Aku mengangguk gamang.

“Bukankah aku yang harusnya cemas.” Ujernya sambil menatap kedua mataku, serasa membaca hatiku. “Nae namja akan semakin banyak punya fans.” Ia menghela napas dan memandang keluar. Di masa trainee nanti banyak yeoja yang cantik. Oppa… pasti akan berpaling..” sambungnya setengah berbisik.

“Annio~,” tegasku segera. “Kau satu-satunya!”

“Jika dimulai dengan indah, kita harus akhiri dengan indah juga kan oppa?”

Ya~! Jangan berkata seolah-olah kita putus. Aku janji aku akan usahakan menelponmu setiap hari.”

Ia tersenyum dan mengangguk.

Namun ternyata, aku tak bias memenuhi janjiku. Aku hanya bias mengirim pesan dan kalau usai latihan aku sempatkan mengirin pesan suara padanya.

Setelah debut, aku cuma bias menemuinya tiga kali dalam setahun. Saat ulang tahunnya, ulang tahunku (yang ini terkadang aku harus menyelesaikan pesta yang dibuat temanku baru menemuinya) dan hari jadian kami. Jadwal yang padat membuat dia yang lebih banya mengirim pesan suara padaku. Kadang, aku merasa bersalah padanya…

Aku mendapat image playboy di grupku. Aku cemas. Bagaimana kalau dia mengira aku seperti itu? Bagaimana jika hal itu membuatnya putus denganku? Namun dia tak pernah sekalipun membahasnya. Ketika kutanya dia menjawab, “Tidak apa-apa oppa. Asal jangan kenyataannya saja. Aku harap aku tetap di posisi ketiga setelah Tuhan dan orang tua oppa.”

Senyumku mengembang seketika.

Cemas itu masih ada. Kami yang berjauhan. Punya waktu senggang yang tak sama. Akankah perasaannya bertahan?

Aku gembira bukan main ketika dia mengirim pesan suara yang isinya,

Oppa… aku sudah lihat banjun drama kalian. Whaa~ oppa kau keren sekali. Andai aku jadi tokoh utama wanitanya… Oppa, boleh aku bilang kalau aku cemnburu? Mianhae…oppa. Perasaan itu… benar-benar tak bias kukendalikan… Ottokhe?”

Segera aku menghubunginya dan meminta bertemu.

-End Yoochun POV-

“Whoaa….” Koor terpesona kami berkumandang bersamaan.

“Ingat ketika aku buru-buru keluar dan bilang keadaan darurat namun wajahku terlihat ceria.”

“O! yang waktu itu,” pekik Jae Joong.

“Nde. Hyung bilang aneh, kalau darurat seharusnya aku cemas. Hari itu hari di mana pertama kalinya dia bilang cemburu padaku.”

“O~” koor kami berkumandang lagi.

-Yoochun POV-

Aku menemui Hyun Ae di tempat rahasia kami.

Oppa… apa kalimatku tadi membuat oppa cemas?” ujernya takut.

Aku mendekat.

“Mi-“

Aku memeluknya. Membuat kata-katanya terhenti.

O… oppa?” ia terkejut.

Aku memeluknya erat. “Dari kemarin aku mencium bau yang terbakar.” ujerku sambil merebahkan kepalaku di pundaknya.

“Eh?”

“Ternyata itu hatimu ya…”

Oppa~,” ia memukul bahuku. Aku tahu ia malu.

“Aish.. Berisik sekali. Apa kau mendengarnya?”

“Um..Nde!”

Eh? Di sini tidak ada bunyi berisik. Apa dia tahu maksudku?

“Bukankah itu bunyi debaran hati oppa?” lanjutnya.

Ah, ternyata dia tahu!! “Seharusnya aku yang bilang begitu kan? Kau berdebar hebat ketika kupeluk.”

Ia lagi-lagi memukul bahuku. Aku tertawa girang.

Gomaweo…” ujerku.

“Eh?”

Gomaweo karena selalu mencemaskanku.”

Kurasakan dia mengangguk.

Gomaweo… karena sudah cemburu untukku.” *gyaaa~~~~*

Oppa~” ia mencubitku. Kebiasaannya ketika rasa malunya memuncak.

“Itu melegakanku, Hyun Ae-ah..” bisikku.

Hyun Ae tak menjawab. Aku tak perlu jawaban langsung darinya. Pelukannya yang erat sudah menjawab semuanya.

Jeongmal saranghae oppa…” bisiknya pelan.

Debut di jepang, hal paling menyiksaku. Membuatku tak bisa menemuinya di hari jadian kami. Aku memutuskan menelponnya.

“Kau di mana?” tanyaku usai menanyakan kabarnya.

Oppa tidak tahu?” ia balik bertanya.

“Maksudmu?”

“Bukankah selama ini aku ada di hati oppa?” Dia menggodaku.

Ya~.” Senyum bahagiaku merekah seketika.

“Aku sedang di kamar, oppa.” Ujernya usai tergelak.

“Sedang mengerjakan apa?”

“Umm… tugas rutin.”

“Tugas rutin?” ulangku.

“Hm-mm. Tugas memikirkan oppa sepanjang waktu.”

Ya~

Hyun Ae tertawa lagi.

“Kenapa justru kau yang menggodaku.” ucapku setengah bergumam. Gelak tawa Hyun Ae makin keras terdengar. Membuat dadaku terasa hangat.

-End Yoochun POV-

“Wowww….” Ujer Junsu. Matanya jelas terlihat sangat kagum dengan kisah cinta yang manis dari Yoochun.

“Suit-suit!” Changmin bersuit heboh.

Kulihat wajah Yoochun memerah. Ia terlihat bahagia sekali mengingat kisah manisnya dengan gadis itu.

“Ia juga membuat syal dan mengirimnya. Ingat ketika changmin bilang kenapa cuma satu syal saja yang kupakai?”

“Jangan-jangan…” Changmin menduga-duga.

Yoochun tersenyum hangat. “Itu hasil rajutannya.” Suaranya pelan.

“Whoaa.. Yoochun-ah… kau benar-benar suka padanya ya?” kata Junsu takjub.

Buhg!

Pukulan pelan mendarat di kepala Junsu.

“Kenapa kau menanyakan hal sebodoh itu??” ujer Jae Joong. “Itu sudah tentu kan?!!”

Yoochun tertawa. “Kalian mau melihat fotonya?” tawarnya.

“Boleh kah?” tanyaku tak percaya.

Yoochun mengangguk. Ia beranjak ke kamarnya dan kembali sambil membawa HPnya. Ia mengganti memori stick HPnya dengan yang baru di ambilnya di kamar.

“Ini dia,” ujerya setelah mendapatkan album foto bertuliskan ‘Nae Yeoja’.

Kami mendekat dan menatap foto yang ada di HP tersebut. Seorang gadis berambut lurus dan tebal. Matanya yang sedikit menyipit dengan lengkungan lembut dan hangat tercipta di bibirnya. Pipinya merona. Tampak seperti tersipu malu. Kulitnya yang putih cerah semakin mempesona kami.

“Cantik, hyung,” komentar Changmin.

Aku mengangguk menyetuji pendapatnya.

“Hm-mm,” Junsu ikut mnendukung komentar Changmin barusan. “Kenapa kau bilang biasa saja?” tanyanya.

Yoochun tertawa. “Sengaja. Agar kalian jujur menilainya, hahaha.”

-end flashback-

Hari yang bahagia setelah itu. Yoochun selalu menceritakan apa yang ia bicarakan dengan Hyun Ae usai menelpon. Dan kebahagiaan itu semakin kami rasakan meningkat ketika Yoochun bilang dia mau melamar gadis itu tiga bulan lalu.

-flasback-

“Apa manajemen mengijinkan?” tanyaku ketika Yoochun bilang dia mau melamar Hyun Ae.

“Nde.. sebenarnya manajemen juga sudah tahu sejak dua tahun lalu.

“MWO???” kami terkejut bersamaan.

Yoochun mengangguk. “Manajer yang bilang. Dari pada ketahuan lebih baik diberitahukan lebih dulu. Pemimpin melihat kesungguhanku. Ketika kubilang ‘lebih baik kehilangan karirku dari pada kehilangan dia’ pemimpin berkata ‘Jaga dia baik-baik. Kalau sampai fans tahu, aku tidak akan turun tangan untuk melindunginya’.”

“Jika itu kebahagiaanmu, maka itupun kebahagiaan kami juga. Good luck, Yoochun-ah.” Ujerku.

Hwaiting, hyung!” Changmin semangat mengatakannya.

“Kabari kami segera apa jawaban Hyun Ae ya?” pinta Jae Joong.

Yoochun mengangguk.

Sejam kemudian dia menelpon dan jawaban gadis itu serta kedua orang tuanya adalah ‘Ya’.

Kami bersorak gembira. Seolah kamilah yang mau menikah.

Waktu berlalu. Segala persiapan dimulai.

Manajemen mengatur konferensi pers pernikahan Yoochun yang akan berlangsung dua minggu lagi. Mereka juga memperlihatkan foto-foto pra wedding Yoochun dengan Hyun Ae.

Semua berjalan lancer. Fans merestui hubungan mereka. Ikut bahagia dengna kebahagiaan Yoochun. Bahkan ada yang langsung memanggil Hyun Ae dengan sebutan ‘Onnie’. Kami lega.

-end Flasback-

Kami bahagia. Hingga membuat kami  lupa untuk waspada terhadap fans fanatic kami.

Hari itu, seminggu sebelum pesta.

-Flashback-

Yoochun dan Hyun Ae mencoba jas dan gaun pengantin. Banyak fans yang mengikuti ke mana saja mereka pergi. Mereka heboh menyebarkan kegiatan yang Yoochun dan Hyun Ae lakukan. Tak kalah hebohnya dengan wartawan.

Merasa kehausan, Hyun Ae pamit ingin membeli minuman dingin di minimarket seberang. Yoochun masih mencoba jasnya yang lain. Sepertinya ukurannya ada yang kurang pas.

“Biar aku saja.” Tawarku ketika ia hendak keluar.

Anni. Fans diluar cukup banyak. Nanti oppa malah tidak bisa lewat.”

“Tapi-“

Gwenchana,” potongnya. Ia tersenyum meyakinkan. Aku mengalah. Membiarkannya keluar. Semoga tidak apa-apa.

Sesaat kecemasan melandaku. Ketika fans menyapa Hyun Ae dengan sebutan ‘onnie’ aku lega. Kulihat Hyun Ae membalas sapaan mereka. Kudengar juga mereka berpesan untuk menjaga Yoochun dengan baik.

Hyun Ae menjawab permintaan mereka sembari tersenyum dan terus berjalan ke seberang.

Yoochun menatapnya ketika ia keluar dari minimarket dengan sekantung plastikl kecil berisi minuman di tangannya.

“HYUN AE-AH??!!” teriakan Yoochun mengagetkan kami.

“KYAAAAA!!!” paru-paruku serasa lemas mendengar fans di luar menjerit. Satu sosok bersimbah darah di aspal membuat jantung kami seperti berhenti berdetak.

Yoochun dan kami berempat keluar.

Hyun Ae tampak tak bergerak.

Ambulan membawa Hyun A eke rumah sakit. Yoochun ada di dalamnya. Kami mengikuti di belakang dengan mobil kami.

Rumah sakit tampat mencekam. Kami baru menyadari hal itu ketika melihat lorong UGD. Aku merasa bisa mendengar detak jantung member yang lain.

Suara tangis terdengar ketika kami di dekat ruang gawat darurat itu.

“Hyun Ae-ah!!!” teriakan Yoochun menyayat-nyayat hati kami. Ia menangis sambil memeluk sosok kaku di pembaringan. “Kajjima~” suaranya pilu sekali.

Aku merasa sulit untuk bernapas. Ini… ini bukan kenyataan kan?

“Jawab aku Hyun Ae-ah!” Yoochun tergugu. Bahunya bergetar. Ia mengguncang-guncang tubuh Hyun Ae yang tidak bergerak. Seketika air mata kami jatuh. Hyun Ae, gadis yang begitu dicintai Yoochun, telah tiada.

Wae hyung?” lirih Yoochun ketika upaca pemakaman usai.

Wae…” isaknya tertahan. Ia berlutut di depan makan Hyun Ae dan kembali menangis hebat.

Kami baru bisa membawanya ke mobil dan pulang saat tangisnya melemah dan ia sudah tak bisa melawan, kelelahan.

-end flashback-

Kami mengetahi pelaku tabrak lari Hyun Ae adalah salah satu fans fanatic kami. Di pengadilan dengan jujur dia bilang tak rela Yoochun menikah dengan orang lain.

Apa kalian tahu, Yoochun pernah bilang padaku, “Jika menjadi idola membuatku harus kehilangan Hyun Ae,  maka aku lebih memilih tidak pernah menjadi idola, hyung.”

Apa kalian tahu? Lebih dari enam tahun ia diam demi Cassiopeia. Menjaga hati Cassiopeia agar tidak terluka.

Hyun Ae yang bahkan sudah sejak delapan tahun selalu ada di samping Yoochun. Menudukung segalanya. Percaya padanya. Bertahan untuknya. Setia padanya.

Lalu kenapa? KENAPA??

Kalian bilang mencintai Yoochun. Tapi apa? Apa yang sudah dilakukan salah satu dari kalian? Kenapa menyakiti idola kalian? Bukankah cinta yang sesungguhnya tak akan menyakiti orang yang dicintainya?

Ah, mian… aku malah marah-marah seperti ini. Ini bukan salah kalian. Tapi salah pelaku itu.

Kami sungguh sangat berterimakasih atas segala cinta kalian yang begitu besar untuk kami. Tapi tolong jangan sesadis orang itu.

Sebulan lalu orang itu mengirim surat yang isinya minta maaf dan dia sangat menyesal. Tahukah kalian apa balasan Yoochun?

“Apa dengan menerima maafmu, Hyun Ae-ku kembali?”

Bahkan orang tua pelaku itu datang dan meminta maaf pada Yoochun langsung. Jawaban Yoochun masih sama.

“Apa dengan memaafkan, Hyun Ae-ku kembali?”

Ia meninggalkan orang tua pelaku itu begitu saja.

“Hyung?” jemariku terhenti ketika mendengar suara serak Yoochun memanggilku.

Aku menoleh dan melihatnya sedang memandangi langit yang muram.

“Apa dengan memaafkan orang itu, Hyun Ae-ku bisa kembali?”

Apa yang harus kujawab?

–End—

Hehehe… gomaweo udah baca…. Di tunggu komentarnya.

Bagi yang kena tag, WAJIB KOMENTAR lho~ ^^

Silahkan lanjut ke ceritaku yang lain ya~ XDXD

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: