FF Guilty Feeling


ada juga d http://hyunae19.blogspot.com

 

==================

 

Hm… kali ini one shot lagi. Cuma lebih panjang. Castnya kali ini FT Island. Tapi rada bingung untuk judulnya nih.. apa yang cocok ya, hehe…

Langsung baca aja ya. Mian kalau ceritanya gak jelas, hahaha…

————————————————————————————–

Title: Guilty Feeling

Author: Imah Hyun Ae

Cast: Hong Ki, Jae Jin, and Hyun Ae

Disclaimer: Diambil dari cerpen buatanku saat aku SMA (tepatnya tanggal 30 Oktober 2007) yang setelah kubuka lagi ternyata belum pernah ku publish, hehe…

 

Guilty Feeling

 

Kutatap sosok di seberang sana yang tengah melambaikan tangannya padaku. Senyumnya mengembang tulus. Matanya berbinar penuh perasaan kasih. Namun, hatiku lagi-lagi menjerit. Jeritan yang sama dengan yang kurasa ketika dia jadian dengan Lee Jae Jin, sahabatku. Padahal, seharusnya aku merasa senang karena dia kini telah menjadi kekasihku. Bukankah ini yang kuinginkan?

Hfff… senang? Pantaskah?

Aku balas senyum Hyun Ae. Lantas kulajukan motorku meninggalkan sosoknya yang masih menatapku di teras rumahnya.

Rentetan peristiwa beberapa waktu lalu terungkap diingatanku. Buku kenangan di otakku tak mempedulikan perintahku yang melarangnya terbuka lebih lebar lagi.

-Flashback-

Siswa-siswi di SMA Island sudah pulang. Tanpa sengaja aku melihat Jae Jin menarik tangan Hyun Ae dengan keras. Ada satu rasa yang tak bisa kuartikan tampak di retina sahabatku itu.

Kubuntuti mereka yang melangkah ke taman samping sekolah

“Waeyo, oppa?” Tanya Hyun Ae sedikit takut.

Jae Jin menatap Hyun Ae dengan tatapan sedih. Kilat keperihan ada di matanya. “Mianhae…” lirih Jae Jin sambil menjatuhkan pandangannya ke tanah.

“Nde?” Hyun Ae bingung.

“Tolong… maafkan aku…”

“Maaf untuk apa, Jae Jin-ah?” Hyun Ae tampak tenang.

“Hubungan kita.”

“Eh?” Hyun Ae manatap lekat Jae Jin yang masih memandang tanah.

“Aku rasa…  jauh lebih baik kalau kita akhiri saja.”

“M-mwo??” Hyun Ae tak percaya dengan pendengarannya barusan.  “Kau bercanda kan, Jae Jin-ah?” ia menatap penuh harap.

“Mianhae…” lirih Jae Jin.

Seketika wajah Hyun Ae berubah pucat. “Waeyo…?” lirinya. “Apa aku punya salah apdamu?”

“Anni…”

Hyun Ae menatap sosok Jae Jin lekat-lekat. Seolah mencari jawaban sesungguhnya yang disembunyikan laki-laki di depannya itu.

“Kau…jatuh cinta pada yang lain?” Tanya Hyun Ae lambat dan pelan.

“Eh?” kepala Jae Jin mendongak. Kaget. “A-annio… Nae saranghae, Hyun Ae-ah… Kundae-”

“Arraseo…” potong Hyun Ae cepat. “Gwenchana, Jae Jin-ah… Arraseo…” Hyun Ae berbalik. Melangkah meninggalkan Jae Jin. Matanya tampak basah.

“Bukan begitu, Hyun Ae-ah…” gumam Jae Jin pelan, membuat Hyun Ae tak mendengarnya.

Aku kepal tanganku kuat-kuat. Menahan emosiku terhadap sahabatku itu yang telah tega melukai Hyun Ae, gadis yang kucintai.

Kulayangkan pandanganku pada sosok Jae Jin yang membuang napas berkali-kali. Matanya tampak memerah. Apa… dia juga ingin menangis?

Ah, tidak ada waktu memikirkan orang seperti dia! Yang harus segera kutemani adalah Hyun Ae. Aku segera mencarinya.

Aku memenukan gadis berambut sebahu itu duduk sambil menangis di kursi taman kota tak begitu jauh dari sekolah. Kudekati dia perlahan.

“Hong Ki-ssi?” katanya kaget saat sadar aku sudah di depannya. Disekanya air matanya dengan segera.

“Menangislah jika itu  membuatmu merasa lebih baik,” ucapku lalu duduk di sampingnya.

Ia diam. Aku tahu dia sedang menatapku sekarang.

“Anggap aku pohon yang siap mendengar keluh-kesahmu.” kataku sambil mengalihkan pandanganku padanya.

Hyun Ae tertunduk. Air matanya jatuh lagi.

“Dia tiba-tiba memutus hubungan kami,” lirih Hyun Ae di sela isakannya. “Andai dia memberi sinyal lebih dulu, aku mungkin…” kata-kata Hyun Ae tertahan. Air mata membanjiri pipinya. Kuulurkan sapu tanganku padanya. Disambutnya sapu tangan itu perlahan.

“Gomaweo…” ucapnya setengah berbisik.

 

Setelah mengantar Hyun Ae pulang, aku segera menuju ke rumah Jae Jin. Pas sekali dia ada di sana.

Tanpa permisi lagi, aku masuk ke kamarnya.

“Hong Ki-ah? Tumben tidak ketuk pintu dulu seperti biasanya. Waeyo?”

Bugh! Kutampar wajah Jae Jin yang kelihatan tanpa dosa. Dia seolah tak menanggapi apa yang abru kulakukan. Dia duduk dan bersandar di dinding kaamr sambil menusap pipinya yang memar. Pandangannya tertuju pada jendela kamarnya yang terbuka.

“Itu imbalan bagimu karena sudah menyakiti Hyun Ae!”

Jae Jin diam. Tak melakukan pembelaan. Biasanya dia akan bilang padaku, ‘Sikapmu menunjukkan kalau kau juga mencintainya!’ Tapi ini….

“Kau tahu perasaanku! Kau juga tahu Hyun Ae bahagia bersamamu!bukankah sudah pernah kubilang, kalau kau menyakitinya, aku akan merebutnya darimu?!!”

Jae Jin tersenyum tipis. Sangat tipis. “Karena itu… jaga dia.”

“Mwo?” aku menatapnya bingung.

“Berjanjilah padaku kalau kau tidak akan membuat Hyun Ae terluka…” ia menatapku dengan wajah memohon.

“Apa yang kau katakana?!”

“Aku percaya padamu, Hong Ki-ah…” Ia berkata penuh keyakinan. Tak ada tanda-tanda dia sedang bercanda. Ada apa dengannya?

-End Flashback-

 

Aku menghela napas. Ketika masuk ke kamarku, bayangan masa lalu yang lain hadir lagi.

-Flashback-

Beberapa hari setelah Hyun Ae putus dengan Jae Jin…

Hyun Ae mengalami kecelakaan dan mengakibatkan dirinya kehilangan ingatannya. Jae Jin bukannya membantu Hyun Ae ingat lagi justru bertingkah tak peduli.

“Apa-apaan kau ini??” bentakku padanya. Dia masih dengan wajah tak peduli yang memuakkan itu. “Hyun Ae kehilangan ingatannya! Apa kau tak merasa bersalah sama sekali??”  Aku mencengkram kerah bajunya. “Apa kau benar-benar tak peduli lagi dengannya??”

Jae Jin membuang muka. Tapi, dengan jelas kulihat nanar di matanya. Apa yang dia sembunyikan?

“Aku tak bisa menjaganya lagi. Bukahkah dia sudah kuserahkan padamu?”

Aku tersenyum sinis. “Serahkan? Kau pikir dia barang?!!”

“Pokoknya aku tidak bisa.” Jae Jin mencoba melepas cengkramanku.

“Mwo??” aku melotot padanya.

“Kau punya foto bersamanya kan? Mengakulah kalau kau kekasihnya yang dulu dan sekarang. Bawa foto itu agar dia percaya. Aku lebih rela jika dia bersamamu. Setidaknya aku sudah kenal betul siapa dirimu…”

“MWO?? Kau-“ aku mengencangkan cengramanku.

“Hanya itu yang bias kulakukan untuknya. Mianhae…” Dia melepas paksa cengkramanku.

Aku berdecak kesal.

“Lagipula kau mencintainya kan? Jangan sia-siakan kesempatan ini. Mumpung aku merestui, hehe…”

Bugh!! Habis sudah sabarku. Kutampar dia sekuat tenaga. Pukulan ketigaku terhenti ketika kulihat dia ingin menangis. Kenapa??

-End Flashback-

 

Saat itu aku masih tidak mengerti. Meski begitu aku tanpa berpikir dua kali mengiyakan keinginannya. Dengan sedikit bantuan Jae Jin, Hyun Ae percaya aku adalah kekasihnya. Aneh memang. Hingga… di suatu malam, saat aku mau meminjam buku persiapan ujian di tempat Jae Jin, aku mendengar ummanya bicara sambil terisak.

-Flashback-

“Kenapa harus dia… Dia yang sangat cinta menari, kenapa??” isak ummanya Jae Jin. “Kanker tulang itu, kenapa memilih tubuh anak kita? Padahal dia belum mewujudkan cita-citanya. Satupun!”

Aku membeku. Terkejut. Benarkah yang ku dengar?

“Kau melamun?” tiba-tiba Jae Jin menegurku dari belakang.

Kutatap dia. Kutanyakan tentang perkataan ummanya barusan.

“O~, sekarang kau sudah bisa menguping ya?” dia merangkul bahuku penuh rasa persahabatan. “Gawat!” dia memberikan cengiran khasnya padaku.

“Jangan sembunyikan apapun dariku!”

Mata Jae Jin berubah sayu. Jauh berbeda dari sebelumnya.

“Kau tahu kanker tulang tidak?” Katanya sambil balas merangkul bahuku. Dia menyeretku duduk di sofa di ruang tengah.

Aku menggeleng.

Wajah Jae Jin mengguratkan luka yang sangat dalam. Ia mengehla napas berat. “Bulan depan, usai ujian… aku akan di kemoterapi…” lirihnya. Ia mencoba tersenyum tegar padaku. Tapi di mataku, itu justru semyum perih yang terbentuk.

“Tak lama lagi… aku… tak akan bisa berdiri dan berjalan dengan kedua kakiku…” ditatapnya kakinya. Ngilu menghantam hatiku. Jae Jin yang senang sekali menari hip hop dan bercita-cita menjadi penari dan pelatih tari professional itu membuatku tak mampu berkata-kata.

“Jadi… karena ini…” kataku pelan.

“Eh?” dia mendongak.

“Karena ini kau putus dengan Hyun Ae?”

Dia diam tak mejawab. Tapi sorot matanya sudah menjawab dengan jujur.

Aku menarik napas. Merasa bersalah sudha berbuiruk sangka padanya. “Mianhae…” pintaku.

“Kau tak perlu minta maaf,” sahutnya tenang.

-End Flashback-

 

Aku menghela napas. Mungkin… tidak! Pasti. Ya, pasti, di hati Hyun Ae masih ada cinta untuk Jae Jin. Aku yakin itu karena dua hari lalu kulihat gurat kecemasan pada wajahnya ketika Jae Jin jatuh saat berjalan dan tak mampu bangkit lagi.

-Flashback-

“Gwenchana?” Tanya Hyun Ae. Jae Jin mengangguk. Mencoba berdiri tapi gagal. Ia meringis kesakitan. Wajahnya memucat.

Aku segera mendekat dan memapahnya. Ia meringis. aku berhenti dan menunduk. Menyuruhnya ke punggungku. Hyun Ae di samping Jae Jin, mengelap keringat dingin laki-laki ini.

Aku membawanya ke rumah sakit. Hyun Ae ikut.

Di sana, guratan cemas Hyun Ae makin menjadi. Hatiku terguris. Tapi di sisi lain, aku juga merasa lega.

-End Flashback-

 

Sejak hari itu Hyun Ae lebih senang kalau ku ajak ke rumah sakit menjenguk Jae Jin dari pada jalan-jalan. Kurasa, lebih baik aku mengatakan semua kebenarannya. Jika nanti diingat dan… Jae Jin tiada (semoga tidak), Hyun Ae akan sangat membenciku. Lebih menyakitkan lagi kalau sampai dia tak tahu-menahu lagi padaku.

***

“Jongsuhamnida, Hyun Ae-ah… tapi itulah yang sebenarnya. Aku bukan kekasihmu baik sekarang maupun dulu. Jeongmal mianhae…” aku menunduk dalam. Tak berani melihat ekspresi Hyun Ae.

Kudengar Hyun Ae menghela napas berat. Dadaku sesak. Cemas dan ketakutan melandaku.

Ketika langkah pelannya makin menjauh, aku sadar dia tak memaafkanku.

Aku menjenguk Jae Jin. Kukatakan padanya bahwa aku sudah jujur tentang segala hal pada Hyun Ae. Jae Jin berusaha memukul pundakku.

“Babo!” desisnya.

Aku tersenyum tipis. Karena sudah terlalu lama berkunjung, aku berpamitan.

Deg!

Aku baru keluar dan kakiku terkunci seketika saat melihat sosok Hyun Ae berjalan mendekat ke kamar rawat Jae Jin.

Dia meraih gagang pintu tanpa melirik sedikitpun pada aku yang membeku.

Clek!

Gagang pintu diputarnya, bersamaan dengan itu kudengar….

“Gemaweo, Hong Ki-ah…” katanya pelan.

“Eh?” Aku memandangnya.

Perlahan kepalanya bergerak, menoleh ke arahku. Seulas senyum lembutnya terukir. “Gomaweo karena sudah jujur padaku.” Katanya lagi.

“O?! N-nde.” Sahutku gagap. Kupikir dia tak akan tahu-menahu lagi padaku.

Sekali lagi Hyun Ae memberikan senyum lembutnya. Kemudian dia masuk ke dalam.

Di depan pintu aku melihat dia mendekat ke ranjang Jae Jin.

Jae Jin mendongak dan matanya membulat. Tampak sekali dia terkejut.

“Boleh… aku mencintaimu lagi, Jae Jin-ah?” tanya Hyun Ae pelan.

“EH?”

“Aku memang belum ingat semuanya. Tapi aku janji aku akan berusaha mengingat semuanya. Aku… ingin di sisimu lagi.”

“Tapi aku… sudah tak seperti dulu lagi.” Jae Jin menatap perih kedua kakinya.

“Aku tahu, karena itu biarkan aku di sisimu.”

Jae Jin kembali menatap Hyun Ae. Senyum gadis itu berhasil membuat Jae Jin mengangguk.

Chukaeyo, Jae Jin-ah, Hyun Ae-ah… ^_^

Ah… Rasanya, keepingan-kepingan perasaan tak enak yang selama ini menggangguku, rasanya perlahan mulai terangkat…

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: