FF End Of Love


sudah saya post juga dulu di http://hyunae19.blogspot.com

+++++++

 

Hohohoho…. Author kembali lagi dengan cerita baru nih… ^^

Moga-moga kalian suka ya😄.

Happy reading XDXD

————————————————————————————

Title: End of Love

Author: Imah Hyun Ae

Cast: Eunhyuk aka Hyuk Jae (Super Junior), Hyun Ae dan Taemin (Shinee)

Disclaimer: imajinasi saya ketika mau bikin cerpen ^^

 

End Of Love

 

Kelas gaduh. Para siswa sibuk bercanda dan menggoda pujaan hatinya yang ada di kelas. Sedang para siswi ada yang sibuk bergosip, ada yang mendekati dan mencari perhatian idola mereka, ada pula yang bercanda tidak jelas.

Aku masih nyaman duduk di bangkuku dengan kedua tangan menopang dagu. Tak peduli dengan kegaduhan di sekitarku.

Kulirik Junsu. Dia tampak sedang meluncurkan aksi mempesonanya, membuat siswi yang menggerumbunginya menjerit heboh.

Aku memanyunkan bibirku sembari mengingat bahwa pesona yang kupunya hanya akan kutunjukkan pada seorang gadis yang sudah hampir dua tahun ini mengisi mimpi-mimpi indahku. Dia berhasil merebut hatiku di hari perpisahan SMP dulu. Ah, suaranya sangat indah dan pandai sekali bermain piano.

Sayangnya, aku dan dia beda kelas. Ah… padahal aku ingin memandang sosoknya sepuasku. Sosok anggun dan punya senyum manis itu.

“Boleh pinjam buku paket bahasa inggris salah satu dari kalian?” suara sopan itu membuyarkan lamunanku. Kerumunan di sekitarku  menoleh ke sumber suara.

Angin serasa menyapa tubuhku. Lembut dan syahdu. Di depan pintu, berdiri sosok yang tengah kubayangkan sejak tadi, Lee Hyun Ae.

Kulihat beberapa orang bergerak mengambil buku mereka. Sadar, aku segera mencari buku bahasa inggrisku. ‘Ini kesempatan,’ batinku.

Saat aku mendapatkan buku tersebut, seorang teman sekelas sudah menyerahkan buku paketnya pada pujaan hatiku itu. Aku segera berhambur, mendekat. Mengambil buku tersebut dan menyerahkan ke orang itu.

“Punyaku saja,” kataku sambil menyerahkan buku paketku. Dia menerimanya dengan memandnag bingung padaku.

“Gomaweo…” katanya canggung. “Nanti pulang sekolah kukembalikan.”

Aku mengangguk sambil tersenyum lebar. Kebahagiaan tergambar jelas di wajahku. Ini pertama kalinya aku dan dia bicara, hehehe…

Puk!

Seseorang menepuk pundakku keras.

“Apa yang kau lakukan??” teriakku kesal sat melihatnya tersenyum lebar.

“Menyadarkanmu kalau dia sudah pergi.” Ujer Junsu santai lalu menyeretku ke lapangan basket. Aku tahu, beberapa siswi di kelas memandang aneh padaku. Mungkin mereka bertanya-tanya, kenapa aku bertingkah seperti tadi. Terserahlah… yang penting aku bahagia sekarang ^___^

***

Aku baru keluar kelas saat sosok Hyun Ae tersenyum menyambutku. Dia mendekat dan menyerahkan buku paket bahasa inggrisku.

“Jeongmal gomaweo, Hyuk Jae-ssi,” ujernya tulus. Hangat menebar di seluruh sel tubuhku.

“N-nde. Chomanayo…” sahutku selembut mungkin. Hebat. Di dekatnya rasanya senyumku tak pernah luntur, hehehe…

“Kalau begitu, aku duluan. Sekali lagi terima kasih…” pamitnya lalu berbalik.

Dia pergi? Aku ingin lebih lama lagi. Hatiku menjerit-jerit gelisah.

“Cho-chogi…”

Hyun Ae menghentikan langkahnya dan berbalik. “Nde?”

Aku mendekatinya dengan satu tangan menarik Junsu untuk mengikutiku.

“Boleh sama-sama? Kami juga mau pulang…”

“A~ Nde.”

Kami melangkah bersama. Ah… andai berdua saja pasti lebih indah…

Di depan gerbang tampak Heechul sunbei, Onew, Soo Hyun dan Taemin menunggu. Mereka adalah sahabat Hyun Ae sejak kecil (aku tahu hal ini dari teman yang sekelas dengan mereka dulu).

“Noona!!” Taemin memekik girang dan segera menarik Hyun Ae menjauh dariku. Matanya menyelidikku tajam. Anak ini seolah tahu aku menyimpan rasa pada Hyun Ae.

Seolah tak peduli dengan aku dan Junsu, mereka melangkah ke halte dan naik ke bus.

Soo Hyun dan Onew duduk berdampingan. Sejak kelas satu mereka resmi jadi pasangan kekasih. Heechul memilih duduk di sebelah teman sekelasnya dan Taemin… Dia menyeret Hyun Ae ke belakang. Duduk di bangku terakhir.

Aku mengikuti mereka. Junsu sudah dapat tempat duduk di depan tadi.

“Ya~!” teriak Taemin kesal. “Kenapa mengikuti kami?”

Lihat! Aku baru saja duduk di sebelah Hyun Ae dia sudah sekesal itu. Apa haknya??

“Cuma ini yang kosong. Lihat saja!” komentarku datar.

“Tsk!” dia berdecak kesal.

Kuambil ipodku. “Mau ikut dengar?” tawarku pada Hyun Ae.

“Ah? Boleh. Lagu siapa saja yang kau punya?” Hyun Ae tampak antusias.

“Noona?” Taemin memanggil dengan nada cepat. “Aku dapat lagu baru. Coba dengar! Lagunya asyik lho!” katanya sambil memasang headset ke telinga Hyun Ae.

Ugh, menyebalkan! Anak ini kenapa seolah tidak memberiku kesempatan? Apa Hyun Ae miliknya?! Tidak kan?

“A?? kita tukar tempat dulu,” ujernya lagi.

M-mwo??? Aku melotot padanya saat dia duduk di sampingku. Dia balas melotot padaku tak kalah galak.

Aish… Aku membuang napas keras. Mencoba mengusir kekesalanku.

Bus berjalan.

Hyun Ae tampak asyik sekali bicara dengan Taemin yang lebih muda tiga tahun darinya. Dia baru kelas satu SMA, tergolong cepat untuk anak seusianya.

Mereka tertawa bersama, membuat kekesalanku meningkat.

Dengan santai Taemin bersandar di sandaran kursi lalu….

YA!!! Berani-beraninya dia!! Kenapa dia merebahkan kepalanya di bahu Hyun Ae-ku????

Aku panik sekaligus cemburu. Kulihat Hyun Ae mencubit pipi Taemin sambil tersenyum. Dia menanggapi tingkah anak itu sesantai itu?!

Gigiku bergemelutuk menahan geram. Hari yang semula kukira menyenangkan, berubah sudah. Argh…kenapa anak ini harus ada di dekat Hyun Ae?!! Menyebalkan! Tapi, kenapa Hyun Ae begitu santai menanggapi kelakuannya?

Lihat!! Sekarang si Taemin yang sok imut itu memejamkan matanya. Nyaman sekali dia!!

Kutatap Hyun Ae yang sedang asyik… MERAPIKAN RAMBUT TAEMIN??

Omo!! Jangan-jangan…

***

 

Hujan deras. Para siswi yang membawa payung sudah berjalan menuju halte. Salah satu dari mereka ada yang menawari Junsu satu payung berdua, Junsu menerima tawaran itu dengan bahagia.

Aku sedang berpikir meminjam payung siapa ketika kulihat Hyun Ae berjalan dengan lesu. Dia membuka payungnya dengan enggan.

Segera aku menghampirinya.

“Anyeong…” sapaku.

“Ah, anyeong, Hyuk Jae-ssi.” Jawabnya kaget. Dia mencoba tersenyum.

“Mana yang lain? Biasanya kalian bersama.” Tegurku saat sadar keempat sahabatnya tidak ada.

“Heechul oppa sedang ada kelas tambahan. Onew dan Soo Hyun sedang kencan.”

“Hujan-hujan begini?” potongku.

Hyun Ae tertawa kecil. “Apa yang kau pikirkan. Mereka sedang kencan di kelas, membahas materi ujian matematika yang akan keluar besok di kelas mereka.” Terangnya.

Aku mengangguk paham. “Lalu Taemin?”

“Minnie?” ulangnya.

O, jadi panggilan kecil anak itu ‘Minnie’?!

Hyun Ae menghela napas  berat. “Dia duluan. Katanya menemani temannya mencari buku.”

Kuteliti wajah lesu Hyun Ae. Apa gara-gara Taemin?

“Temannya itu perempuan ya?” tebakku.

“Nde…” lirih Hyun Ae. Pandangannya tertuju pada hujan.

Apa dia sedih? Dia tampak tak bersemangat sekali.

Aku mengambil payungnya dan menariknya ke sampingku.

“Hyuk Jae-ssi?” Ia terkejut dengan perlakuanku.

“Biar aku yang mengantarmu pulang…”

“EH? Tidak perlu. Aku-,”

“Kajja!” potongku cepat. Aku tak mau mendengar dia menolak tawaranku. Kutarik tangannya untuk membuatnya melangkah. Tangan kananku menggenggam tangan kirinya dnegan erat sementara tangan kiriku memegang payung. Agak sulit karena aku harus berusaha agar Hyun Ae tidak basah.

Perlahan Hyun Ae melepas genggaman tanganku. Aku menoleh ke arahnya. Dia tampak pura-pura tak tahu.

Dengan canggung aku memindang genggaman payungku ke tangan kanan. Kami melangkah dalam diam…

***

Tanpa sepatah kata, cinta datang. Tanpa sepatah kata, ia menyapa. Membawa bahagia tanpa diminta. Membuat hari yang biasa-biasa saja jadi istimewa. Merubah hal-hal kecil bisa jadi sitimewa.

Kulihat Hyun Ae tengah serius memilih mana yang bagus dari dua buah kalung yang penjaga toko aksesoris sodorkan pada kami.

“Jadi yang mana?” tanyaku. Hyun Ae menaruh telunjuk nya di dagu. Seolah sedang berpikir keras.

“yang mana?” desakku tak sabar.

“Umm… Ini.” Dia menunjuk kalung dengan liontin lumba-lumba.

“Yang ini, omonim.” Kataku pada penjaga tokonya. Si penjaga itu segera membungkusnya dan menyerahkannya padaku.

Aku bilang pada Hyun Ae sesaat sebelum berangkat kalau aku mau membelikan sesuatu untuk orang yang special bagiku. Dia menemaniku dengan antusias.

 

Tiba di rumahnya, kuserahkan kalung tersebut. Dia menadnagku penuh Tanya.

“Bukannya…” kata-katanya menggantung.

“Orang special itu adalah kau, Hyun Ae-ah…”

“Eh?”

“Kalau kau menerimaku, pakailah kalung ini. Kapanpun kau mau menerimaku.

“Hyun Jae-ssi, aku-.”

“Aku tak mau dengar jawaban selain kau menerimaku, Hyun Ae-ah.” Kuberikan senyum terbaikku padanya.

“Hyuk Jae-ssi, mia-.”

“Noona!!” panggil seseorang di belakangnya.

Hyun Ae pasti mau bilang, ‘Mianhae, aku tidak bisa.’ Untung saja seseorang memanggilnya.

“Lama sekali! Aku hampir mati bosan menunggu, noona!” lanjut orang yang memanggil Hyun Ae tadi dengan manja.

Aku tak jadi merasa beruntung ketika melihat siapa yang memanggilnya. Siapa lagi kalau bukan Taemin. Anak ‘kecil’ itu tampak merengut.

“Mianhae, Minnie…” kata Hyun Ae sambil mencubit pipi Taemin yang merengut dengan gemas.

Aku mengehmpaskan napas dengan keras. “Aku pergi dulu. Bye…” pamitku.

“Ah? Nde. Bye…” sahut Hyun Ae canggung.

“Pergi dan jangan pernah mendekati noonaku lagi!” teriaknya padaku.

Aku terus berjalan. Pura-pura tak mendengarnya.

“Noona, aku tak suka melihat noona jalan dengannya!” samar kudengar kalimat itu meluncur di bibir Taemin.

“…”

Aish…

***

Hari terlalu cerah untuk suasana hati seperti ini. Berkali-kali aku menghela napas panjang. Mencoba mengusir ingatan tentang kejadian yang baru saja terjadi. Sayangnya, aku gagal. Kata-katanya itu kembali berkelebat di benakku.

 

-Flashback-

Hyun Ae dating ke ruang seni, tempat di mana aku sering diam-diam melatih tarianku. Dia dating untuk mengembalikan kalung yang kuberi.

“BUkannya aku bilang akan menunggu sampai kapanpun?”

“Mianhae…” lirihnya.

Aku mendengus kecewa. “Apa sampai kapanpun kau tetap hanya memandang Taemin?”

Hyun Ae tampak terkejut.

“Apa selamanya hanya dia yang kau sukai dan aku selamanya tetap sebagai teman?” kesalku.

“Jongsuhamnida, Hyuk Jae-ssi.” Ia berkata penuh sesal. Seketika dadaku sakit!

Aku membuang muka. Tak ingin memperlihatkan bulir kecewa yang menggenang di mataku. “Setelah lebih dari dua tahun rasa ini ada dan kau tolak begitu saja?!”

“Mian…” lirihnya. Perlahan dia beranjak pergi.

“Apa jika si Taemin itu tidak mengatakan suka padamu…” kata-kataku sukses membuatnya berhenti. “… kau tetap mengembalikan kalung ini padaku?”

“Mianhae…” hanya itu jawabannya. Lantas dia benar-benar pergi.

-End Flashback-

 

Aku kembali menghempaskan napasku dengan keras. Kemarin saat aku pamit, aku sebenarnya tak benar-benar pergi. Aku bersembunyi, mencuri dengar pembicaraan mereka.

 

-Flashback-

“Pergi dan jangan pernah mendekati noona-ku lagi!” teriak Taemin padaku ketika aku melangkah pergi meninggalkan rumah Hyun Ae.

Aku terus berjalan. Pura-pura tak mendengarnya.

“Noona, aku tak suka melihat noona jalan dengannya!” samar kudengar kalimat itu meluncur di bibir Taemin.

Wae? Dia kan temanku?”

Langkahku terhenti. Aku bersembunyi dan mendengarkan pembicaraan mereka.

“Aku tetap tidak suka!”

Hyun Ae tertawa kecil melihat wajah kesal Taemin. “Pasti ada alasannya kan kalau tidak suka?

Taemin manyun. Wajahnya jelas sekali merengut.

Waeyo?” Tanya Hyun Ae lagi.

“Aku… aku mau noona hanya memandangku!” jujurnya pelan.

Deg! Apa ini pernyataan cinta?

Nde?” Hyun Ae tampak tak percaya dengan apa yang baru didengarnya.

“Aku… suka noona.” Ucap Taemin lambat. Ia menunduk dalam. “Bukan suka sebagai adik dan kakak. Tapi suka terhadap lawan jenis,” katanya setengah berbisik. “Aku ingin noona hanya untukku.”

Hyun Ae menatapnya gugup. “Jangan bercanda seperti ini, Taemin-ah! Ini tidak lucu.”

Jeongmal saranghaeyo, noona!!” Taemin menatap Hyun Ae tajam. Wajahnya serius sekali. “Jadi, berhentilah memandangku sebagai magnae! Naneun namja!!” tegasnya. “Jadi, pandang aku sebagai namja!”

Hyun Ae terdiam.

Mungkin karena malu, Taemin melangkah pergi dengan canggung.

“Sejak tiga tahun lalu…” kata Hyun Ae lambat. “…aku tidak pernah memandangmu sebagai magnae lagi.”

Seketika Taemin berhenti.

Nado… sarangahae, Taemin-ah…” kata Hyun Ae dengan pelan.

Senyum kekanak-kanakan Taemin merekah. “Jeongmal?”

“N-nde..” jawab Hyun Ae gugup.

Taemin langsung memeluk Hyun Ae sambil sesekali melompat girang. “Ye~ noona jadi pacarku sekarang!!” teriaknya girang. Ia lantas melepas pelukannya dan kembali berkata, “Mulai sekarang aku panggil chagiya ya?”

Wajah Hyun Ae memerah.

Chagiya?” panggil Taemin lembut sambil menggandeng tangan Hyun Ae mesra. Senyum manis terukir di wajahnya.

Aish…

-End Flashback-

 

Cinta datang tanpa suara. Membawa angan terbang indah di angkasa. Ia lalu pergi dengan meninggalkan luka. Menghempasku seketika, tanpa peduli aku siap atau tidak!

Hhhh…. Kenapa kisah cintaku tak berakhir bahagia?!

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: