Perjalanan Menulisku (cuma mengenang)


For My friend, Nurdan, you can translate it with google  translate if you want. Here, just story about how long I try to be a writer. How I down and up again. You are a part of my life story. Thanks a lot for your support and believe that I can do it. Thank you so much…

—-

Perjalanan Menulisku

Oleh Imah_HyunAe

 

Aku tiba-tiba ingin mengenang masa lalu. Tentang perjalanan menulisku hingga saat ini.

Baiklah, kumulai saja. Bersiaplah untuk menggelengkan kepala kalian jika kalian rasa kisahku ini agak aneh, lucu, atau apapun yang kalian rasakan. Aku hanya ingin mengenang.

Aku pertama kali mengenal cerita fiksi kelas 2 SMP.  Saat teman baikku bernama panggilan Ayu membawa novelette bonus dari sebuah majalah miliknya. Dia bilang ceritanya menarik. Aku membacanya, dan langsung terpesona. Betapa hebatnya penulisnya memainkan imajinasi kami. Dan dari situlah sebuah ide untuk ‘menulis’ itu muncul.

Aku dengan gaya bertuturku yang biasa, dan standar sekali merangkumkan satu novelette pertamaku yang kata Ayu, ‘bagus’. Novelette itu berjudul ‘Sebuah Kenyataan’. Teman-teman SMP-ku yang lain pun mendukung dan bilang, “Coba diteruskan lagi”. Akupun mencoba meneruskan namun gagal.

Cerita itu yang setelah kubaca beberapa waktu lalu nampaknya parah sekali, hahaha…

Di hari lain, Ayu datang ke sekolah dengan membawa majalah remaja diam-diam. Kalian sendiri tahu peraturan sekolah melarang kita membawa hal-hal diluar sekolah. Aku memperhatikan majalah itu dan tertarik apda ceritanya yang indah, lucu, sedih, bahkan aneh. Di majalah itu ada 7 cerpen. Wow…

Aku dan temanku berniat menulis cerpen dan saling menukarkannya. Aku menulis cerpenku di diari terbaik yang saat itu mampu kubeli. Tidak, terbaik bukan dalam arti mahal, hanya bentuknya yang lumayan besar dan warnanya yang kusuka, hehe… Ayu bilang ceritaku bagus. Padahal menurutku ceritanya lebih bagus. Aku masih terlalu ‘biasa’ untuk bisa di sebut seperti itu. Aku berhasil menulis 5 cerpen waktu itu. Yang setelah kubaca lagi, kembali menyadarkanku betapa ‘biasa’nya tulisanku waktu itu.

Aku resmi jadi penggemar majalah tersebut. Terbit sebulan sekali, membuat temanku yang bisa berhemat itu selalu membelinya dan aku meminjamnya, hehehe… Penulis-penulis di sana bagus sekali karyanya. Dan yang paling kusuka adalah karya S. Gege Mapangewa.

Karena ingin memiliki, minimal satu, aku memutuskan ikut menabung juga. Jadilah, kami sama-sama membeli majalah tersebut bulan berikutnya. Kemudian, ada satu niat di hatiku. Benar, menerbitkan ceritaku ke majalah tersebut. Apa salahnya mencoba, pikirku. Kubaca syarat-syaratnya dan hm… ternyata harus menggunakan computer. Aku mengangguk-angguk dan menyerah. Mengubur impian sederhana itu di sudut hatiku karena keluargaku tak punya komputer. Hingga akhirnya, saat kelas 3 SMP, ayahku membeli komputer. Aku gembira sekali. Akhirnya…

Aku pun mempelajari Ms. Word. Lumayan bisa. Jadi, mulailah aku mengetik.  Lalu menge-print-nya. Dan niat yang terkubur selama ini muncul kembali.

Aku kembali membaca sarat-syarat di majalah remaja itu yang saat itu sudah terbit menjadi dua minggu sekali. Tulisan ‘times new roman’, aku tahu. Kurubah format tulisanku jadi ‘times new roman itu’. Lalu yang kedua huruf 12pt. Bingung, kutanya dengan ayahku, lalu berubahlah ukuran hurufku menjadi 12. Yang ketiga spasi 2. Apa itu?

Bingung, aku bertanya lagi. Kata ayah, spasinya dua kali. Kupikir waktu itu spasi antar kata. Jadilah ku tekan dua kali setiap kali mau memisahkan kata dengan kata. Ku kirim. Dan tak dimuat.

Kenapa? Apa ada yang salah syaratnya? Atau tulisanku sejelek yang kupikirkan?

Hm… waktu itu, aku masih tidak tahu apa-apa. Aku mengubah formatnya lagi. Mungkin maksudnya spasi bukan antar kata. Dan dengan sok tahu aku mengubahnya jadi dua kolom (yang kuyakini dua spasi waktu itu). Mengingatnya serasa ingin tertawa. Betapa tak tahu apa-apa diriku ini.

Ku kirim lagi, dan jelas saja gagal.

Kutanya lagi dengan ayahku. Dia bilang spasi itu jarak antar baris. Aneh… biasanya kita menyebut spasi kan untuk antar kata, pikirku sok tahu lagi. Kucoba saja, tak ada salahnya kan?

Lagi-lagi, gagal. Bosan, aku memilih tak menulis lagi.

Aku vakum untuk beberapa bulan. Hingga akhirnya aku berada di SMA.

Kelas X SMA, gara-gara buku paket latihan bahasa Indonesia ada cerpen remaja yang pernah dimuat di Koran Kompas, aku jadi bersemangat lagi. Ceritanya remaja seperti itu, masa aku tak bisa, pikirku. Aku menulis lagi dan mengirimkannya sekali ke majalah remaja lain. Tak ada jawaban. Aku tahu aku ditolak, namun setidaknya aku sudah mencoba. ^_^

Aku masih menulis, namun tak di komputer lagi, di buku tulis yang bergambar dan berwarna warni. Komputer ayahku rusak waktu itu.

Kelas X SMA aku cukup produktif. Di buku tulis 1 aku berhasil menulis 3 cerita dan yang paling disukai teman-temanku adalah ‘Belalang vs Kumbang’. Yah, mereka boleh membaca karyaku asal memberi kritik atau saran. Hanya beberapa, yang lainnya memuji. Dan aku berterima kasih sekali atas kebaikan hati mereka, meski jauh lebih baik kalau mereka mengatakan kekuranganku.

Di buku kedua, ada 4 cerita. Dan yang paling mereka sukai adalah ‘Memosies of Rain’. Salah seorang dari  mereka mengusulkan agar aku mengirim ke majalah. Aku melakukannya dan harus berusaha tersenyum untuk kegagalanku yang kesekian kalinya. Dibuku ketiga ada 4 judul. Teman-teman yang membaca sangat suka pada cerita “Pilunya Tahun Baru’.

Aku selalu bilang pada mereka jangan memujiku, karena kau takut aku merasa aku hebat. Sedangkan majalah jelas-jelas menolakku. Mereka malah membantah, “Memang bagus! Kami nggak bohong..” aku tersenyum mendengar kata-kata mereka. Untuk kalian teman-teman SMA yang membaca ceritaku, terima kasih banyak. Kalian salah satu kekuatan hingga aku bisa masih terus berkarya waktu itu.

Kelas XI SMA fokusku berubah. Aku lebih ke novel. Ada tiga judul novel yang sebenarnya sudah kutulis namun belum juga tamat (Salah satunya baru kuselesaikan bulan kemarin untuk dilombakan pada lomba cerpen di Leutika Prio).

Masuk ke kelas XII SMA fokusku berubah ke novelette dan cerpen. Untuk novelette, dengan halaman yang hanya di atas 50 aku nekat mengirimnya ke penerbit. Salah satunya, yang kukirim ke Elex Media berjudul ‘Cantik, I’m Coming!!!’ (sudah kuedit habis-habisan dan bulan kemarin kupost di blogku. Bayangkan dua setengah tahun baru aku berani mengedit tulisan itu, hehe….), mereka menjawabnya tiga bulan kemudian melalui surat. Mereka menyatakan pasar buku mereka saat ini sedang fokus pada kisah nyata. Aku mengerti dan lega. Lega karena mereka memberi jawaban pasti tentang naskahku yang tidak diterima mereka dengan bahasa halus. Sedangkan penerbit lainnya, tak menjawab sama sekali. Aku menunggu hingga setahun tak ada jawaban. Aku pun memvonis itu sebagai penolakan.

Ibu sempat bilang, “Menulis terus. Sudahlah, berhenti saja. Tak mungkin juga diterima.”

Aku sedih. Namun masih berusaha dengan sisa harapan yang kumiliki.

Di cerpen, aku nekat mengirim ke banyak majalah. Ada empat majalah kalau tidak salah. Dua cerpen yang kukirim kembali ke tanganku, karena sepertinya majalah itu bangkrut. Sedangkan yang lainnya tak terdengar kabarnya.

Aku sama sekali tak berharap, hingga enam bulan kemudian, saat aku jalan-jalan ke area pasar, Pak Pos melihatku dan bilang, ada kiriman untukku. Aku terkejut. Kiriman apa? Aku tidak memesan buku. Kupikir temanku yang melakukannya karena dia memang biasa memakai alamatku, sebab lebih mudah dicari.

Siapa sangka kiriman itu berupa uang. Aku terharu. Untuk pertama kalinya dalam hidupku naskahku diterbitkan dan untuk pertama kalinya juga aku menghasilkan uang dengan tulisanku. Ibu tersenyum melihat honor yang kuperoleh.

Dalam hati aku berkata, “Lihat kan, Bu? Anakmu ini bisa!”

Waktu berlalu dan karyaku hanya satu itu saja yang berhasil kuterbitkan, hehe… Aku kuliah dan tak bisa mengetik karena komputer tak punya. Fokusku selama 1 semester hanya belajar, membaca novel, dan mendengarkan radio. Aku tidak punya tv waktu itu. Kata ibu nanti saja kalau adikku sudah kuliah.

Hatiku tergerak lagi untuk menulis saat membaca novel ‘17th Years of Love Song’ dari Orizuka. Aku salut pada kakak yang satu ini karena berhasil menulis karya dan sekarang sudah meluncurkan novelnya yang ke-12. Kapan ya aku seperti dia?

Kembali ke topic awal, aku menulis lagi. Novel yang lagi-lagi tidak selesai.

Semester 3 akhirnya komputer boleh di bawa ke sini, ke kota tempatku kuliah. Fokusku tak lagi di cerpen dan novel, karena berkat Rima, aku mengenal FanFic di semester 2, dan mulai menggeluti hal itu di semester 3. Cukup banyak yang menyukainya, hingga akhirnya salah-satu teman, Mursidah Zein, menawarkanku jadi author tetap di grup Fanfic Lover.

Aku sendiri menyadari gaya penulisanku yang cenderung mellow dan sad ending. Mungkin karena aku juga menyukai tulisan jenis itu. Aku jadi terus terkenang dengan ceritanya, dan kuharap merekapun begitu, hehe…

Masuk semester 4, aku mulai mengenal blog dari Halisa, teman sekampusku. Aku mem-posting ceritaku, terutama FanFic di sana. Dan berharap banyak yang mengunjunginya. (kalau mau kunjungi saja http://hyunae19.blogspot.com/ atau https://imah20.wordpress.com/ ada banyak cerita dan FanFicku di sana *promosi*)

Aku menyadari tulisan-tulisanku mulai membaik. Dan berniat mengirimkannya lagi. Kebetulan ada lomba. Aku mengikutinya di semester 4 lalu, dan sayangnya harus gagal lagi karena cerita yang kupilih terlalu sinetron dan juga marginnya salah. Sebenarnya bukan penuh salahku, karena di web yang mengadakan lomba di tulis 5 cm marginnya. Eh, tak tahunya setelah ku kirim, marginnya berubah jadi 2 cm. Dan lagi-lagi, ibu bilang, “Sudahlah, jangan menulis lagi. Membuang waktu dan uang saja. Lebih baik belajar. Kalau memilih menulis, berhenti saja kuliah.”

Aku diam saat itu. Menahan iar mataku. Mungkin buat kalian ini hal sepele, tapi buatku, ini hal berat. Menulis adalah hidupku. Napasku. Aku bahagia bisa menuliskan apa yang kubayangkan karena tak semua orang bisa melakukannya. Dan ibu memandangku tak bisa.

Aku kecewa, sedih, dan terluka. Aku mengalami penurunan semangat. Kurasa itu pula yang dialami penulis pemula lainnya. Di semester 5 aku mulai malas menulis. Sibuk mencari video dan berpikir, apa sebaiknya kulakukan? Aku merasa aku telah gagal dari awal di dunia kepenulisan.

Nyaris menyerah dan membuang cita-cita tertinggiku, “Jadi Penulis Hebatl” Penulis dalam artian bukunya di terbitkan. (Kalian tahu, hal yang selalu kubayangkan ketika ke toko buku, karyaku ada di rak mereka. Entah kapan hal ini akan terjadi). Tidak di sangka, aku bertemu dengan novel ‘Surat Kecil Untuk Tuhan’ yang melejit saat ini. Duo penulis ini berhasil membukukan karya mereka karena kunjungan ke blog mereka yang begitu banyak. Wajar, ceritanyapun sangat menyentuh.

Aku sedang putus asanya saat itu, hingga ketika kubaca “Ayo kirimkan suratmu pada Tuhan.”

Apa salahnya? Aku ingin bertanya dengan cara lain, tidak apa-apa kan?

Akupun menulis suratku dan membacakannya dalam shalatku. Aku berdoa, “Tuhan, jika menurut-Mu saya tak layak mengusahakan diri ada di dunia kepenulisan ini, mohon jauhkanlah. Tapi jika Engkau merasa saya layak, mohon permudahkanlah…”

Seperti mendapat jawaban dari-Nya dengan perantara teman-teman. Dari Eka, teman SMA-ku yang kuliah di bahasa Indonesia, dia mengatakan kalau Koran Tabengan menerima naskah cerpen. Dia bilang datang saja ke redaksi dan bawa naskahku. Karena tidak tahu di mana, aku sampai sekarang tidak ke sana, hehe…

Lalu yang kedua, dari Risty. Dia bilang ada lomba novel dari Leutika Prio. (terima kasih untuk infonya, dongsaengku ^_^). Aku kembali menulis dengan semangat, padahal bulan ini aku ujian, hehe…

Aku menyelesaikannya sekitar 10 hari, karena kerangkanya sudah ada. Novel yang kubilang tidak selesai kutulis saat SMA, hehe… sudah kukirim *mohon doakan aku*. Dan resmi kuberi judul, sesuai saran dari Rima ‘A Story of Life, Lie, and Love’.

Aku kembali jatuh karena merasa aku tak mampu. Aku merasa karyaku sudah yang terbaik yang barhasil kutulis, namun juri belum tentu berkata sama. Aku takut, tegang, dan cemas jika ini kegagalanku yang kesekian kalinya lagi. Membayangkannya pun air mataku sudah tak mau keluar. Mungkin sudah terlalu kering.

Dan Nurdan, soerang teman jauh yang kukenal di FB mengatakan kalau kau bisa. Aku berterima kasih atas kepercayaannya padaku dan kata-katanya yang menyemangatiku. Sekali lagi, terima kasih Nurdan.

Tuhan memang selalu di dekat kita. Saat aku jatuh, Dia seperti membimbingku bertemu dengan halaman grup Simpel (bagi yang mau gabung tinggal klik di bagian nama Simpel yang kutag, juga Leutika Prio, mereka satu bagian). Aku bertanya di dinding mereka,

“Jadi penulis harus percaya diri, tak mudah menyerah. Tapi kalau sudah mencoba sekian tahun dan tetap gagal, wajarkah memilih menyerah?”

Simple menjawab dengan bijaknya, “Kenapa Imah harus memutus usaha yang sudah dirintis selama bertahun-tahun? Ketika Imah sudah mencoba menembus media/penerbit dalam tempo sekian lama, sebenarnya Imah sudah tidak lagi berada di level 0, tapi sudah masuk di level 4 atau 7.

Nah, kenapa harus berputus asa? Bukankah ketika Imah berputus asa, kemudian mencoba bidang lain, Imah akan menempuhnya dari nol. Sedang dalam bidang menulis ini, (sekalipun gagal) Imah sudah masuk di level 4. Hayo,lebih dekat mana 4 atau 0 untuk mencapai angka 10?

Pernah dengar ungkapan Leo Tolstoy, ‘Tuhan tahu tapi menunggu’.

Mari terus mencoba, sejauh Imah yakin dan potensi diri masih ada, Tuhan akan mengijabahkan…” (kata-kata ini kusadur dan kuberikan padamu Risty, agar kamu tetap semangat)

Aku masih mengeluh, “Merasa terlalu lelah… Susah payah bangkit, berusaha lagi, tapi jatuh lagi. Makin down saat orang tua bilang ‘yang kamu usahakan ini sia-sia’. Ingin buktikan kalau mereka salah, tapi sudah tak bertenaga. Mungkin benar, saya sudah di level 4, tapi mungkin buat mereka itu tak berarti apa-apa.”

Simple menjawab, “… Menghargai proses, memasrahkan hasil. Semoga Imah menemukan semangatnya kembali. Dengan cara, mari menuliskan segala keluh tersebut…”

Aku merenung seharian. Dan akhirnya, semangatku sedikit demi sedikit kembali. Aku menyadari satu hal lagi, penulispun membutuhkan dorongan dan dukungan dari orang lain. Jadi, terima aksih banyak buat teman-teman SMP, SMA, kuliah dan teman facebook  yang senang dengan karyaku. Terima kasih banyak telah menjadi oase dari perjalanan melelahkanku. Terima kasih banyak.

Lalu, atas kuasa-Nya, kembali, Risty *memang baik sekali kamu, Ris T_T*, memberi info lomba cerpen. Aku dan dia sama-sama mengikutinya. 127 cerpen yang ikut dan hanya 5 yang dicari. *mudah-mudahan kami berhasil, amin*

Benar, Tuhan tahu, namun menyuruhku menunggu. Sekarang tingal menunggu hasil. Kalau gagal (semoga tidak), pilihan ada di tanganku. Aku bisa menerbitkan sendiri karyaku dengan paket penerbitan yang Leutika punya. Atau jalan yang selalu di tempuh penulis lain, mengirimkannya ke penerbit.

Aku tahu, “Tuhan memberi apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan.”

Terima kasih, Tuhan, sudah mengirimkan orang-orang yang kubutuhkan, teman-teman yang jadi pembaca setiaku.

Untuk teman-teman dan pembaca karyaku, kunjuangan, komentar, baik itu kritikan, pujian, atau sekedar kalimat pendek, atau juga sekedar minta tag lagi, kalian adalah udara yang bisa memompa semangatku. Aku tak akan bertahan jika tanpa kalian. Terima kasih banyak. Untuk Lia (yang selalu memberi komentar di ceritaku. Maaf aku jarang mengomentari milikmu. Maafkan aku hehe…), Eka (yang selalu menunggu kelajutan FF Begin, maaf belum kulanjutkan), Rima (atas kritikan dan kejujurannya yang mengatakan tulisanku lebih baik dari novel yang kamu baca kemarin), Dina (atas kesukaannya pada tulisanku yang mellow), Risty (atas info-info lombanya dan juga pujiannya ^_^), Nurdan (thank you for your support), Dhimas (yang selalu bertanya kapan terbit), Fahmi (yang mengamini harapan SMP-ku ini), Astri (yang selalu ingin baca, tapi malas kasih komentar), Halisa (atas info blognya dan sudah bersedia baca karyaku, meski belum sempat kamu baca sampai selesai), Indah (yang tiba-tiba menyemangati), Zein (atas kepercayaannya memintaku jadi salah satu author di grup ^_^) Lili Yanti (yang selalu mendukungku dari SMP ^^), Ayu (yang selalu memuji padahal karya dia lebih baik dariku), Ipur, Atun, Isti, Herlina, Engkis, Vita (atas saran dan kritik kalian seriap kali membaca karyaku J) dan teman-teman lainnya yang tak bsia kusebutkan namanya satu persatu yang selalu membaca karyaku ini. Terima kasih banyak. ^_^

Salam hangat Imah_HyunAe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: